SASTRA, DIMADURA - Perpisahan adalah jeda sunyi di antara riuh kenangan dan harapan. Dalam bahasa ibu yang kaya rasa, lima puisi berikut lahir dari perenungan yang dalam—tentang guru, ruang kelas, dan langkah kaki yang mulai menjauh.

Di sini, puisi bahasa Madura menjadi medium untuk mengabadikan rasa terima kasih, kegelisahan, serta keberanian melangkah, dengan metafora yang tak sekadar berbicara, tapi mengendap.

Setiap kata dalam 5 puisi perpisahan di bawah ini adalah jejak: jejak kapur di papan tulis, jejak langkah di halaman sekolah, jejak cahaya di lorong gelap. Kini, saat perpisahan menjadi kenyataan, semoga puisi-puisi ini menjadi pengingat bahwa kenangan bisa abadi, selama ada yang menuliskannya kembali.

1. Kapur Diam Berguguran

Setiap kali engkau menulis, Ada kapur gugur deras perlahan. Tak bersuara, tak mengeluh, Tapi ia pergi agar kami paham.

Begitulah engkau, guru. Hadir untuk menghilang dalam makna. Kami berdiri hari ini, Di atas debu pengorbananmu.

Kapor Gaggar Agarabasan

Sabban Ajunan nonoles, Kapor gaggar agarabasan. Tadha' sowarana, tadha' serrona, Eyabber angen ka jauna. Ca'epon, Sopaja badhan kaula sadaja ngarte.

Saka'dhinto Ajunan, Guru. Rabuna nyarepsep dhalem arte. Badan kaula sodek manjeng samangken, Neng e attas arbung pangabaktena Ajunan.

2. Guruku Tak Pernah Viral (Kritik Jenaka)