dimadura
Beranda Okara Bias Gender dalam Pendidikan Anak: Analisis Narasi Budaya pada Materi Pembelajaran Ramah Anak

Bias Gender dalam Pendidikan Anak: Analisis Narasi Budaya pada Materi Pembelajaran Ramah Anak

Wasilah (Kopri PC PMII Sumenep). (Foto: Ari/Doc. Dimadura).

Opini
‎Penulis: Wasilah (Peserta SKK PC KOPRI KEDIRI 2025 )

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1Pendidikan anak merupakan fase fundamental dalam pembentukan identitas, pola pikir, dan sikap terhadap lingkungan sosial. Namun, proses pendidikan sering kali tidak netral, melainkan dipengaruhi oleh konstruksi sosial budaya, termasuk bias gender.

‎Menurut Simone de Beauvoir (1949), “One is not born, but rather becomes, a woman”, yang menegaskan bahwa identitas gender dibentuk oleh konstruksi sosial, bukan kodrat biologis. Oleh karena itu, narasi dalam materi pembelajaran yang bias gender berpotensi menginternalisasi stereotip tertentu pada anak sejak dini.

‎Banyak cerita rakyat, buku pelajaran, maupun bahan bacaan anak yang mengandung bias gender. Salah satu contoh klasik adalah cerita Timun Mas.

‎Dalam kisah ini, tokoh perempuan (Timun Mas) digambarkan sebagai sosok pasif yang hanya mampu bertahan hidup dengan bantuan benda-benda ajaib pemberian orang lain.

‎Peran utamanya lebih banyak sebagai objek yang dikejar dan diselamatkan, bukan sebagai subjek yang memiliki kuasa penuh atas nasibnya.

‎Kondisi ini menunjukkan apa yang dikemukakan oleh Sandra Bem (1981) dalam Gender Schema Theory, bahwa anak-anak belajar peran gender melalui skema yang ditanamkan dalam budaya dan materi pembelajaran.

‎Narasi seperti Timun Mas memperkuat skema bahwa perempuan adalah pihak lemah yang membutuhkan perlindungan, sementara laki-laki atau pihak lain diposisikan sebagai penyelamat.
‎Bias gender yang terus-menerus hadir dalam materi pembelajaran memiliki implikasi serius.

‎Pertama, anak perempuan tumbuh dengan keterbatasan imajiner yang membuat mereka kurang percaya diri untuk mengambil peran aktif di ranah publik.

‎Kedua, anak laki-laki dapat terjebak dalam pola pikir maskulinitas hegemonik (Connell, 1995) yang menekankan dominasi, kekuatan, dan kepemimpinan sebagai identitas utamanya.

‎Hal ini bukan saja menghambat perkembangan potensi anak secara setara, tetapi juga memperkuat ketidakadilan gender dalam masyarakat.

‎Untuk mewujudkan pendidikan yang adil gender, diperlukan strategi dekonstruksi terhadap materi pembelajaran.

‎Pertama, cerita rakyat seperti Timun Mas dapat direkonstruksi dengan menekankan kecerdikan dan keberanian tokoh utama perempuan, bukan sekadar ketergantungan pada pertolongan eksternal.

‎Kedua, pendidik perlu mendorong anak untuk melakukan pembacaan kritis, sebagaimana diajukan Paulo Freire (1970) dalam pedagogi kritis, yaitu mengajarkan siswa untuk mempertanyakan struktur narasi dan relasi kuasa yang terkandung di dalamnya.

‎Ketiga, penting menghadirkan figur teladan perempuan dalam sejarah maupun kehidupan sehari-hari yang menunjukkan peran aktif, kepemimpinan, dan kontribusi signifikan.

‎Bias gender dalam pendidikan anak merupakan bentuk reproduksi sosial yang dapat membatasi perkembangan potensi individu berdasarkan stereotip.

‎Narasi seperti Timun Mas menunjukkan bagaimana perempuan sering digambarkan sebagai sosok pasif dan lemah, sedangkan laki-laki. ***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan