“Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya,” ujarnya.

Gagasan itu seperti terdengar sederhana. Tapi menurut dia, dampaknya bisa panjang.

Selama ini jalan raya identik dengan fungsi praktis. Tempat orang lewat. Tempat kendaraan bergerak. Maharaya Festival mencoba memberi makna lain pada ruang tersebut.

Jalan raya diperlakukan sebagai elemen artistik. Ia ikut menentukan bentuk pertunjukan. Ia ikut membentuk identitas karya.

"Di festival ini, kami tidak hanya ingin berbicara tentang tari. Selama tiga hari pelaksanaan, kawasan festival akan diisi berbagai aktivitas budaya. Pelibatan berbagai komunitas seni, juga penampilan sanggar-sanggar," urai Khalis.

Dengan penataan sedemikian rupa, sambungnya, pelaku UMKM diperkenankan membuka ruang ekonomi kreatif di sepanjang 1,5 kilometer rute Maharaya Festival ini.

Di atas semua itu, para penggagas Maharaya Festival di Sumenep ini tampaknya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana: "Bisakah sebuah jalan raya melahirkan tradisi seni baru?"

Jawabannya mungkin akan terlihat pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026. Saat ribuan orang berkumpul di ruas jalan Kabupaten Sumenep. Saat kendaraan menepi. Saat kota memberi ruang bagi tari untuk mengambil alih jalan. ***