BUDAYA, DIMADURA – Jalan itu biasanya dipenuhi suara mesin. Klakson bersahut-sahutan. Orang terburu-buru menuju tujuan masing-masing. Pada akhir Juli nanti, pemandangan itu akan berubah.
Bayangkan sekitar 1,5 kilometer jalan raya dipenuhi penari. Tubuh-tubuh bergerak mengikuti irama. Penonton berdiri di tepi jalan. Kota menyaksikan ruang yang sehari-hari menjadi jalur lalu lintas menjelma panggung pertunjukan raksasa.
Itulah gambaran yang ingin dihadirkan Maharaya Festival. Pemerintah daerah memasukkan kegiatan ini ke dalam Sumenep Calendar of Event 2026.
Festival ini bukan hendak memindahkan pertunjukan tari ke ruang terbuka. Jalan raya ditempatkan sebagai sumber gagasan. Koreografi lahir dari karakter ruang tersebut.
Lebar jalan, arah pandang penonton, jarak antarpelaku, hingga alur pergerakan massa menjadi bagian dari proses penciptaan.
“Selama ini banyak pertunjukan tari di jalan raya, sebenarnya merupakan karya yang sebelumnya diciptakan untuk panggung konvensional, kemudian hanya dipindahkan ke ruang terbuka. Kami ingin membalik cara pandang itu,” kata salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis, kepada media ini, Sabtu (11/7/2026).
"Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi," imbuhnya.
Menurut Khalis, setiap ruang memiliki watak. Watak itu memengaruhi pilihan artistik seorang koreografer.
Karya yang lahir dari jalan raya, menurut dia, tidak akan sama dengan karya yang dibuat untuk panggung tertutup.
Geraknya berbeda. Arah hadap penarinya berbeda. Cara penonton menikmati pertunjukan pun berbeda.
“Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya,” ujarnya.
Gagasan itu seperti terdengar sederhana. Tapi menurut dia, dampaknya bisa panjang.
Selama ini jalan raya identik dengan fungsi praktis. Tempat orang lewat. Tempat kendaraan bergerak. Maharaya Festival mencoba memberi makna lain pada ruang tersebut.
Jalan raya diperlakukan sebagai elemen artistik. Ia ikut menentukan bentuk pertunjukan. Ia ikut membentuk identitas karya.
"Di festival ini, kami tidak hanya ingin berbicara tentang tari. Selama tiga hari pelaksanaan, kawasan festival akan diisi berbagai aktivitas budaya. Pelibatan berbagai komunitas seni, juga penampilan sanggar-sanggar," urai Khalis.
Dengan penataan sedemikian rupa, sambungnya, pelaku UMKM diperkenankan membuka ruang ekonomi kreatif di sepanjang 1,5 kilometer rute Maharaya Festival ini.
Di atas semua itu, para penggagas Maharaya Festival di Sumenep ini tampaknya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana: "Bisakah sebuah jalan raya melahirkan tradisi seni baru?"
Jawabannya mungkin akan terlihat pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026. Saat ribuan orang berkumpul di ruas jalan Kabupaten Sumenep. Saat kendaraan menepi. Saat kota memberi ruang bagi tari untuk mengambil alih jalan. ***

