JUDUL ITU LAHIR dalam perjalanan dari Bangkal ke Totosan. Kebetulan, pikiran tentang makna "nakal" sedang berkecamuk dalam kepala. Ingin menulis macam-macam makna nakal ala wartawan, LSM, pejabat eksekutif, dan kenakalan DPR. Eh DPR, anggota parlemen maksud saya.
Maunya, tulisan ini ingin kutulis bentuk kolom. Kutaburi sedikit bumbu budaya, sejarah, filsafat, linguistik, hermeneutik, dan lain sebagainya. Biar nakalnya tidak sekadar nakal, tetapi juga berpengetahuan.
Kata kuncinya tiga: nakal, kenakalan, dan anggaran. Jika ketiganya dikaitkan secara linguistik, maknanya bisa merembet ke mana-mana. Apalagi kalau diteruskan pada kajian kasus.
Dalam bahasa sehari-hari, nakal identik dengan anak kecil yang sulit diatur. Namun, semakin dewasa seseorang, kenakalannya justru semakin canggih. Anak kecil mencuri mangga tetangga. Orang dewasa, bisa mencuri perhatian, kesempatan, bahkan uang rakyat.
Bedanya, anak kecil biasanya dimarahi. Orang dewasa, malah dipanggil terhormat.
Secara semantik, nakal dapat berarti usil, menyimpang, atau melanggar kebiasaan. Dalam konteks tertentu, ia juga menjadi eufemisme; kata lunak untuk perbuatan yang keras akibatnya.
Orang yang mengakali aturan disebut lihai. Yang mengubah angka disebut kreatif. Yang mempermainkan kewenangan disebut sedang bermanuver.

