“Pertarungan awal menuju Pilpres 2029 telah dimulai, hanya saja para pemain masih menyebutnya sebagai silaturahmi, konsolidasi, atau menjaga kondusivitas.” — Mazdon
KOLOM, DIMADURA – Politik Indonesia memiliki tradisi yang unik. Kenapa? Karena lumrahnya, ketika para politisi mengatakan belum ingin berbicara soal pemilu, biasanya justru pada saat itulah, mesin-mesin politik mulai dinyalakan.
Ketika mereka mengatakan fokus pada rakyat, saat itu pula, struktur partai diam-diam mulai dirapikan. Saat mereka meminta publik menjaga kondusivitas, maka di situ ada indikasi, bahwa para elite, mulai menghitung kemungkinan koalisi berikutnya.
Karena itu, safari nasional Joko Widodo bersama PSI layak dibaca lebih dari sekadar perjalanan seorang mantan presiden yang ingin menyapa masyarakat.
Sah-sah saja jika kita coba menerka bahwa, ada sesuatu yang sedang dibangun, sedang dipersiapkan atau, bahkan sedang diuji.
Mesin Politik Baru Bernama PSI
Politik modern tidak dimenangkan oleh popularitas semata. Ia dimenangkan oleh organisasi. Struktur. Kader. Logistik dan, tentu saja: jaringan.
Karena itu, ketika Jokowi berbicara mengenai pembangunan "mesin politik besar", bisa kita tafsir bahwa ia sedang menggunakan bahasa paling jujur dalam dunia politik.
Sebagaimana dilansir sejumlah media mainstream nasional, Jumat (26/6/2026), Jokowi mengawali safari nasionalnya dari Lampung dengan mengenakan atribut PSI, didampingi, Kaesang Pangarep. Ya, putra Jokowi yang saat ini belum masuk di lingkar main kekuasaan. Toh, ia sudah didapuk sebagai Ketua Umum PSI.

