“Di era digital seperti sekarang, menghasilkan karya dengan kedalaman tema kebangsaan, toleransi, dan kepedulian terhadap bencana adalah sesuatu yang luar biasa. Menyentuh sekali. Terima kasih atas karyanya dan selamat,†ujarnya dalam sambutan malam puncak.
Selain A’yat Khalili sebagai Juara Pertama, panitia menetapkan Tifa Fitriana sebagai Juara Kedua melalui puisi “Negeri yang Belajar Bangkit†serta Novi Cahyani sebagai Juara Ketiga lewat karya “Negeri Ini Menangis di Banyak Nama.â€
Kepada jurnalis, Jumat (12/2), A’yat menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang refleksi kebangsaan bagi generasi muda Indonesia.
“Ini adalah refleksi keindonesiaan pascabencana di Sumatera. Garuda TV memberi peluang anak muda untuk berkarya dan merefleksikan keadaan bangsa. Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, dan agama. Dari refleksi itu, kesadaran generasi berikutnya akan tumbuh,†tuturnya.
Penampilan A’yat Khalili di panggung nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gapura pada khususnya, dan warga Kabupaten Sumenep pada umumnya.
Dari dusun kecil di pesisir timur Madura, suara puisinya menggema di ibu kota, membawa pesan bahwa tanah air ini milik bersama, tanpa sekat identitas.

