“Beberapa hari sebelum almarhum masuk rumah sakit, ia sering mondar-mandir, entah apa tujuannya,” tutur S kepada redaksi estoria.id, Selasa (20/10/2026).

Tak seorang pun, setidaknya dalam pengetahuan S, memahami apa yang sedang dirasakan Dani ketika itu. Ia hanya melihat temannya lebih sering bergerak ke sana kemari.

Beberapa jam sebelum dibawa berobat, gelagatnya semakin berbeda. Dani lebih banyak diam, sesekali merenung dengan tangan memegangi perut.

“Beberapa jam sebelum dibawa ke rumah sakit, almarhum sering bengong, merenung, dan gelisah seraya memegang perutnya,” katanya.

Kegelisahan itu kemudian disusul muntah.

“Selang beberapa menit, tiba-tiba almarhum muntah,” ujar S.

S tak lagi mengingat warna muntahan tersebut. Ia hanya mengetahui Dani memiliki riwayat penyakit lambung sejak duduk di bangku SMA.

Pertolongan dari Teman-Teman

Melihat keadaan Dani, sejumlah teman yang berada di bagian laundry segera bertindak. Mereka membawanya ke Klinik Pratama Annuqayah.

Namun, perjalanan mencari pertolongan belum selesai. Dani harus dirujuk ke RS BHC Sumenep karena kondisinya disebut tidak dapat ditangani di klinik tersebut.