“Oleh teman-teman yang ada di laundry dibawa ke Klinik Pratama Annuqayah. Oleh pihak klinik tidak mampu dan langsung dirujuk ke rumah BHC Sumenep,” kata S.
Sejak itu, S tak lagi mengetahui secara terperinci apa yang dialami Dani selama menjalani perawatan.
Kabar berikutnya justru menjadi kabar duka. Pemuda yang sehari-hari mengurus pekerjaan laundry di lingkungan dalem kiai itu meninggal dunia.
Kepergiannya menyisakan kesedihan bagi orang-orang yang mengenalnya. Bagi keluarga, duka tersebut belum sepenuhnya memperoleh jawaban. Hingga sepekan setelah kematian Dani, mereka masih menantikan penjelasan dari pihak RS BHC Sumenep mengenai penanganan yang diterima almarhum.
Yang Tertinggal dari Dani
S tidak memiliki banyak cerita tentang kehidupan pribadi Dani. Ia pun tak berusaha menggambarkan almarhum sebagai sosok yang sempurna.
Dalam ingatannya, Dani adalah pemuda biasa yang menjalani pengabdian di pesantren. Ia bekerja, bergaul, dan membantu teman yang membutuhkan.
Kesederhanaan itulah yang membuat kesaksian S terasa dekat. Kebaikan Dani tidak hadir sebagai peristiwa besar. Ia menjadi bagian dari keseharian yang barangkali dahulu luput diperhatikan.
Kini, setelah pemuda itu pergi, hal-hal kecil tersebut memperoleh tempat tersendiri dalam ingatan.
Di bagian laundry, tempat Dani menghabiskan sebagian waktunya, teman-temannya pernah melihat ia gelisah dan kesakitan. Dari lingkungan yang sama, mereka pula yang bergegas mencarikan pertolongan.

