Pangantan Jhârân, Tradisi Sakral dan Meriah Pengantin Berkuda di Madura
BUDAYA, DIMADURA – Di bawah terik matahari Minggu siang (7/9/2025), halaman rumah keluarga Adi dan Santi di Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, dipadati warga yang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan atraksi pangantan jhârân.
Anak-anak sibuk membeli mainan, minuman segar, hingga rujak, soto, atau bakso dari pedagang keliling yang lumrah hadir di setiap hajatan. Kaum ibu berkerumun sambil bercengkerama, sementara bapak-bapak menunggu dengan penuh rasa ingin tahu.
Suasana kian semarak, mirip pasar rakyat yang mendadak tercipta di halaman rumah pengantin. Semua mata menanti saat mempelai keluar dengan busana unik khas Madura.
Ketika akhirnya pasangan pengantin muncul, decak kagum pun terdengar dari kerumunan. Tubuh keduanya terbalut rajutan bunga melati putih yang harum semerbak, membentuk busana lengkap hingga mahkota di kepala.
Paket baju dan mahkota melati itu biasanya disewa dengan harga Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Kilauan bunga melati yang tersusun rapi berpadu dengan senyum malu-malu sang mempelai, menciptakan pesona sakral sekaligus anggun.
Tak lama kemudian, para penjinak kuda datang bersama jhârân-jhârân andalan mereka. Setelah atraksi pembuka di halaman rumah, prosesi pun dilanjutkan dengan arak-arakan keliling desa sesuai permintaan tuan rumah, diiringi musik saronen yang membuat suasana semakin hidup.
Budaya dan Sakralitas Pangantan Jhârân
Bagi masyarakat Madura, pesta pernikahan bukan hanya soal ijab kabul, melainkan juga ajang kebanggaan keluarga dan penghormatan terhadap adat. Pangantan Jhârân menjadi simbol perayaan itu. Sebuah prosesi yang memadukan hiburan, tradisi, dan sakralitas.

Mempelai yang duduk di atas punggung jhârân tampil anggun dan gagah, seolah melambangkan kesiapan mereka untuk menapaki bahtera rumah tangga dengan doa restu masyarakat dan leluhur.
Saronen yang dimainkan dengan ritmis mengiringi setiap langkah kuda. Alunan nadanya menggema di antara rumah-rumah kayu dan pepohonan desa, mengajak setiap orang larut dalam kegembiraan.
Warga percaya, tanpa arak-arakan ini, hajatan serasa kurang sah. Maka tak heran, Pangantan Jhârân selalu ditunggu-tunggu, bukan hanya oleh keluarga pengantin, melainkan juga oleh seluruh masyarakat yang merasa ikut memiliki perayaan tersebut.
Sejarah Pangantan Jhârân
Sejarah panjang tradisi ini menunjukkan dinamika budaya Madura. Sebelum jhârân menjadi pilihan utama, masyarakat Batang-batang mengenal Pangantan Tandhu, prosesi mempelai yang diarak dengan tandu. Suasana meriah tetap tercipta, tetapi penggunaan kuda akhirnya lebih populer karena dianggap lebih megah dan prestisius.
Menurut salah seorang sesepuh Desa Totosan, Pak Mohayu, demikian akrab dipanggil, tradisi ini sudah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
“Pangantan jhârân biasanya diarak dari rumah yang mengadakan hajatan pernikahan di bawah terop, lalu keliling kampung. Dulu ada juga Pangantan Tandhu, hampir sama, bahkan terkadang diarak ke asta atau pasarean leluhur. Tradisi ini sampai sekarang masih lestari. Orang sini menyebutnya jhârân kenca’, biasanya diiringi musik saronen,” tuturnya.
Bagi warga Totosan, kehadiran jhârân kènca’ (kuda menari) bukan sekadar tontonan, melainkan juga penghormatan kepada leluhur. Di titik tertentu, arak-arakan bisa berhenti di makam untuk meminta doa restu.
Itulah yang membuat Pangantan Jhârân terasa penuh makna, menjembatani dunia yang tampak dengan dunia yang tak kasatmata.
Kemeriahan, Saweran, dan Perjalanan Pangantan Jhârân
Suasana makin hidup ketika jhârân kenca’ (kuda-kuda terlatih) mulai menari mengikuti irama musik. Lenggak-lenggok kepala, hentakan kaki, hingga liukan tubuhnya membuat kerumunan bersorak kagum.
Anak-anak bersorak riang, ibu-ibu bertepuk tangan, sementara bapak-bapak tak segan melemparkan uang saweran ke arah pengantin. Saweran yang menjadi simbol suka cita sekaligus ungkapan syukur.
Menurut Sutiha, warga Dusun Ares Tengah, prosesi ini bahkan bisa berlangsung hingga ke rumah kerabat lain.
“Setelah beranjak keluar dari halaman rumah, sejumlah pangantan jhârân itu diantar menggunakan mobil pikap menuju rumah kakak orang tua pengantin di Nyabakan Timur. Di sana atraksinya kembali digelar,” katanya.
“Sorenya, kuda-kuda itu diangkut pulang dengan pikap, sementara para mempelai naik mobil. Namun, di pertengahan jalan antara Nyabakan Timur dan Totosan, para mempelai turun lagi dari mobil dan kembali diarak dengan pangantan jhârân sampai ke rumah semula,” imbuhnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, baik di rumah mempelai maupun di rumah kerabat, pengantin dikalungi uang kertas sebelum disawer. Nilainya bervariasi. Anak-anak kecil biasanya dikalungi Rp5 ribu atau Rp10 ribu, sedangkan pengantin remaja dan dewasa bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
Kalungan ini menjadi pemantik agar hadirin semangat menyawer lebih banyak. Semakin banyak uang berhamburan, semakin meriah pula suasana.
Tak hanya hiburan, Pangantan Jhârân juga prestise. Biaya sewa kuda yang bisa mencapai Rp3 juta per pasang per hari tidak mengurangi minat keluarga untuk menggelarnya.
Bagi warga setempat, hajatan baru dianggap sukses bila prosesi ini berlangsung megah, mengikat kebersamaan, dan meninggalkan kesan mendalam di hati setiap orang yang hadir.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow






