NEWS DIMADURA, SAMPANG – Kasus campak di Kabupaten Sampang melonjak tajam. Data terbaru Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) mencatat sebanyak 653 suspek campak hingga akhir Agustus 2025, meningkat tajam dari 433 kasus sebelumnya. Artinya, ada penambahan lebih dari 200 kasus hanya dalam hitungan minggu.
Penyebaran campak juga tidak lagi terkonsentrasi di wilayah tertentu. Menurut catatan Dinkes, 14 kecamatan di Sampang telah terpapar, dengan penularan harian yang masih relatif tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes KB Sampang, Samsul Hidayat, melalui staf Surveilans Imunisasi P2P, Esti Utami saat dialog interaktif di RRI mengungkapkan, dari total suspek 190 kasus terkonfirmasi positif campak dan tiga kasus positif rubella berdasarkan hasil laboratorium.
“Tiga kecamatan yang menjadi penyumbang tertinggi adalah Camplong, Omben, dan Tanjung. Ketiganya menunjukkan laju penularan lebih cepat dibanding wilayah lain,†jelas Esti.
Meski demikian, Dinkes memastikan langkah pemantauan ketat sudah dilakukan. Puskesmas dan fasilitas kesehatan desa dilibatkan untuk mengawasi serta melaporkan perkembangan kasus secara rutin.
Esti menegaskan, penyebab utama melonjaknya kasus adalah rendahnya cakupan imunisasi.
“Capaian imunisasi MR tahun 2024 hanya sekitar 69 persen. Banyak anak tidak terlindungi dari campak, sehingga risiko penularan makin tinggi,†ujarnya.
Ia mengingatkan, campak adalah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, tetapi sangat berbahaya jika diabaikan, terutama bagi anak dengan daya tahan tubuh rendah.
“Campak bisa dicegah, tapi jika dibiarkan akan berbahaya. Karena itu, imunisasi harus dilakukan sedini mungkin,†tegasnya.*** Kasus Campak di Sampang Tembus 653 Menyebar di 14 Kecamatan
Foto: Dokumentasi dimadura.id
NEWS DIMADURA, SAMPANG – Kasus campak di Kabupaten Sampang melonjak tajam. Data terbaru Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) mencatat sebanyak 653 suspek campak hingga akhir Agustus 2025, meningkat tajam dari 433 kasus sebelumnya. Artinya, ada penambahan lebih dari 200 kasus hanya dalam hitungan minggu.
Penyebaran campak juga tidak lagi terkonsentrasi di wilayah tertentu. Menurut catatan Dinkes, 14 kecamatan di Sampang telah terpapar, dengan penularan harian yang masih relatif tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes KB Sampang, Samsul Hidayat, melalui staf Surveilans Imunisasi P2P, Esti Utami saat dialog interaktif di RRI mengungkapkan, dari total suspek 190 kasus terkonfirmasi positif campak dan tiga kasus positif rubella berdasarkan hasil laboratorium.
“Tiga kecamatan yang menjadi penyumbang tertinggi adalah Camplong, Omben, dan Tanjung. Ketiganya menunjukkan laju penularan lebih cepat dibanding wilayah lain,†jelas Esti.
Meski demikian, Dinkes memastikan langkah pemantauan ketat sudah dilakukan. Puskesmas dan fasilitas kesehatan desa dilibatkan untuk mengawasi serta melaporkan perkembangan kasus secara rutin.
Esti menegaskan, penyebab utama melonjaknya kasus adalah rendahnya cakupan imunisasi.
“Capaian imunisasi MR tahun 2024 hanya sekitar 69 persen. Banyak anak tidak terlindungi dari campak, sehingga risiko penularan makin tinggi,†ujarnya.
Ia mengingatkan, campak adalah penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, tetapi sangat berbahaya jika diabaikan, terutama bagi anak dengan daya tahan tubuh rendah.
“Campak bisa dicegah, tapi jika dibiarkan akan berbahaya. Karena itu, imunisasi harus dilakukan sedini mungkin,†tegasnya.*** 
