BAHASA, DIMADURASalah seorang pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, KH. Abd Basith Abdullah Sajjad, pernah menyampaikan kalimat pendek yang sanggup menegur panjangnya hasrat manusia.

“Jika butuh satu, kenapa minta seribu?”

Demikian bunyi kalimat pendek filosofis kata mendiang KH. Abd Basith ABAS. Kata-kata yang dalam istilah Bahasa Madura bisa dikategorikan sebagai saloka kona.

Saloka itu menyimpan kritik yang tajam terhadap kecenderungan manusia untuk meminta lebih daripada yang dibutuhkan.

Dalam dua sajak pendek karya Usman, pemerhati dan pelestari Bahasa Madura, gagasan itu juga menemukan bentuk yang jenaka sekaligus filosofis.

Usman, anggota Komunitas Abdhi Dhâlem, Sumenep, yang diasuh H. Abdir Arifin, menuliskan sajaknya melalui aksara Carakan dengan desain yang berbicara tentang kopi dan bakso.

Pada desain pertama, ia menulis:

KOPI

Ekarassa kobassa
Polana sacangker, banne sagentong.
 


Dalam aksara Latin, artinya kira-kira begini: Kerasa nikmat karena satu cangkir, bukan satu kendi.