Coba kita sajikan pendekatan yang tak kalah bijak. Misal, bahwa jurnalis di akar rumput, selain ia berperan sebagai pewarta, ia juga bertanggungjawab sebagai penjaga harmoni sosial. Sebagaimana kita ketahui, sebuah berita yang tak terkontrol bisa menyulut carok, dendam berdarah, atau bahkan memicu mobilisasi massa. Sebab itu, seorang jurnalis kadang cenderung menakar risiko, menyunting informasi dengan prinsip kehati-hatian, tanpa bermaksud mengaburkan kebenaran.
Di sinilah kita dihadapkan pada pertanyaan fundamental: Apakah jurnalis harus total netral dan melepaskan diri dari konsekuensi sosial berita? Atau sebaliknya, apakah ia harus menjadi bagian dari mekanisme sosial, menjaga agar berita tidak menjadi bara?
Dalam etika jurnalisme global, prinsip utamanya adalah akurasi, keadilan, dan keberimbangan. Jurnalis wajib menyampaikan fakta, tetapi juga bijak dalam cara menyampaikannya. Artinya, dalam kasus ini, bukan berarti seorang jurnalis dituntut untuk menyembunyikan kebenaran, melainkan mengemasnya dalam bingkai yang tidak menimbulkan hasutan. Inilah ranah editorial intelligence—kecerdasan naratif yang hanya dimiliki oleh jurnalis berpengalaman.
Sebagai contoh, fakta bahwa luka pada tangan pelaku bukan karena bacokan bisa disampaikan tanpa menyebut identitas individu secara langsung. Cerita bisa ditarik ke level yang lebih konseptual, seperti kritik terhadap ketergesa-gesaan aparat dalam menarik kesimpulan, atau pentingnya mekanisme klarifikasi sebelum penahanan dilakukan. Dengan demikian, jurnalis tetap menyuarakan kebenaran, namun tidak menyulut bara konflik.
Di sini, penulis jadi teringat pada prinsip bahwa jurnalis bukan hakim, bukan pula pemadam kebakaran. Ia adalah penjaga waktu yang merekam peristiwa; menyalinnya dalam lembaran sejarah, dan membagikannya pada publik agar mereka bisa mengambil keputusan. Tapi ini tidak berarti jurnalis bebas dari tanggung jawab moral. Tulisan seorang jurnalis bisa mengangkat atau menghancurkan, bisa memperdalam luka atau menjadi jembatan damai.
Kasus di Legung Timur di atas adalah sekelumit kisah tentang kesalahpahaman, sekaligus gambaran nyata dari bagaimana informasi bisa menjadi bahan bakar konflik. Di tengah masyarakat yang masih menjunjung harga diri dan loyalitas komunal, fakta bisa berubah menjadi senjata. Inilah mengapa jurnalis membutuhkan keberanian, kecermatan, dan kepekaan sosial yang tinggi.
Dalam dunia yang terus dibombardir informasi, peran jurnalis semakin krusial. Ia bukan hanya penutur fakta, tapi pemilah mana yang penting, mana yang bisa menunggu, dan mana yang harus disuarakan sekarang juga. Di situlah letak integritasnya. Dalam kata-kata Qusyairi, jurnalis menulis—yang lain akan mengurus akibatnya. Tapi dalam pandangan yang lebih menyeluruh, mungkin jurnalis juga harus mulai memikirkan bagaimana tulisannya tak sekadar benar, tapi juga membawa manfaat sosial.
Akhirnya, dilema antara menyampaikan kebenaran dan menjaga ketentraman akan selalu menjadi bagian dari napas jurnalisme. Tapi justru di titik itulah martabat seorang jurnalis diuji. Apakah ia hanya perantara kata, atau penjaga nurani zaman?
Karena sejatinya, jurnalis yang baik tidak hanya menulis apa yang dilihat dan didengar, tapi juga apa yang harus dimengerti. Dan dalam setiap tulisannya, terselip pilihan: Apakah ia ingin menjadi pengingat sejarah, atau justru bagian dari kepalsuan yang dicatat rapi dalam arsip kekuasaan.***