Semua kata tersebut dalam bahasa Madura memiliki arti yang sama, yakni: seperti, bagai, laksana, seumpama dan lain semacamnya.

Sebut lagi contoh: Mara mothak kaojhânan, mandâis ta' sabbhâr, bâdâ sè èkarentek. Artinya, "Bagai kera kehujanan, raut wajahnya muram karena tertimpa kesusahan".

Kesan D Zawawi Imron kepada Oemar Sastrodiwirjo

Salah satu sastrawan Madura, D Zawawi Imron, menyampaikan kesan akan perjuangan Oemar Sastrodiwirjo dalam prolog buku ini.

Penyair asal Batang-Batang, Sumenep itu mengungkapkan, walaupun tidak pernah bertemu dengan Oemar Sastrodiwirjo, dirinya merasa telah menjadi murid karena sempat membaca karangannya yang lain, cerita berjudul Siman ban Simin.

"Meskipun saya tidak pernah bertemu selama hidup, tapi karena pada masa kecil saya pernah membaca buku karangannya dengan hati yang asyik, maka saya merasa menjadi murid dari beliau," ucap D Zawawi Imron dalam pengantarnya.

Baginya sosok Oemar Sastrodiwirjo adalah pahlawan kebudayaan. Menurut Pak De, menyusun buku ini justru saat umurnya telah menginjak usia 80 tahun.

-- Hal itu menunjukkan bahwa beliau sebagai sastrawan dan budayawan masih tetap produktif pada usia senja. Bagi orang yang benar-benar menghayati kearifan, usia tua bukan rintangan untuk tetap produktif.

Usia lanjut tetap terbuka untuk melanjutkan perjuangan kebudayaan. Dengan demikian, beliau tidak hanya pandai menyusun kata-kata, tetapi, beliaulah pelaksana dari kearifan itu sendiri.

Pada usia menjelang 80 tahun, secara fisik memang beliau agak lemah, tetapi secara rohani, spirit kebudayaan yang ada di dalam kalbunya tetap bergelora. Ketekunannya tidaklah pupus, sehingga selesailah buku peribahasa dan seloka Madura ini.

Inilah sangkolan atau pusaka berharga dari para leluhur yang perna h hidup di Madura pada zaman yang telah silam.