Segelas Teh Tarik, Sejuta Kenangan

[caption id="attachment_14996" align="aligncenter" width="680"]Pelanggan Teh Tarik Tepi Jalan, Miftahol Hendra Efendi (kanan) dan Subaidi Pratama (kiri), saat beli teh tarik racikan Filzah Iqlimah, Minggu 24 Agustus 2025 (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura) Pelanggan Teh Tarik Tepi Jalan, Miftahol Hendra Efendi (kanan) dan Subaidi Pratama (kiri), saat beli teh tarik racikan Filzah Iqlimah, Minggu 24 Agustus 2025 (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)[/caption]

Di antara pembeli yang datang, ada Miftahol Hendra Efendi, seorang jurnalis yang punya hubungan khusus dengan minuman ini.

Bagi dia, menyeruput teh tarik adalah menghidupkan kembali kenangan saat studi di Thailand tahun 2017 silam.

“Jadi saya kenal teh tarik pertama kali saat ke Thailand. Waktu itu tugas kuliah bareng istri studi komparatif ke sana,” katanya.

Momen mencicipi teh tarik di Negeri Gajah Putih begitu membekas. “Kok enak ya. Beberapa tahun setelahnya, saat banyak yang jual teh tarik di Sumenep, saya jadi nostalgia. Rasanya seperti kembali ke masa itu,” tutur pria berkacamata itu sambil menyeruput pesanannya.

Teh Tarik Indonesia vs Thailand

[caption id="attachment_14990" align="aligncenter" width="1600"]Istri M Hendra Efendi, Yuli Mariyatur Rahmah, beli Teh Tarik khas Thailand di Pattaya (Foto: Doc. Dimadura) Istri M Hendra Efendi, Yuli Mariyatur Rahmah, beli Teh Tarik khas Thailand di Pattaya (Foto: Doc. Dimadura)[/caption]

Menurutnya, teh tarik di Indonesia berbeda jauh dengan yang ada di Thailand.

Indonesia (Sumenep): memakai gula aren atau tangguli khas Madura. Rasanya manis dominan, harus diaduk agar bercampur rata.

Thailand: murni dari daun teh atau rempah dedaunan. Disajikan dalam cangkir, menghasilkan gelembung di permukaan, dan biasanya dipaketkan dengan roti canai.

“Kalau di Thailand, teh tarik itu pure, manis alami dari daun tehnya. Kalau di sini, manisnya dari gula tambahan, bahkan pakai susu dan gula aren,” jelasnya.

Nostalgia Pattaya dan Pattani

[caption id="attachment_14991" align="aligncenter" width="680"]Miftahol Hendra Efendi saat berkunjung ke Thailand, pose di Yala, Thailand tahun 2017 silam (Foto: M Hendra Efendi for dimadura) Miftahol Hendra Efendi saat berkunjung ke Thailand, pose di Yala, Thailand tahun 2017 silam (Foto: M Hendra Efendi for dimadura)[/caption]

Hendra masih ingat, teh tarik begitu populer di Pattaya dan Pattani. Harganya saat itu sekitar Rp17 ribuan sudah sepaket dengan roti canai.

“Di sana bukan pakai gelas, tapi pakai cangkir. Kalau dihisap, gelembungnya itu nggak habis, masih tebal gitu, seperti cintaku sama istri,” kenangnya.