Pengalaman Belajar di Thailand
[caption id="attachment_14993" align="aligncenter" width="1200"]
KUFUK: M Hendra Efendi bersama istri, Yuli Mariyatur Rahmah, abadikan momen di Negeri Gajah Putih (Foto: Doc. Dimadura)[/caption]
Selain kenangan kuliner, ia juga membawa pulang pengalaman pendidikan. “Di sana pendidikan lebih menekankan karakter daripada ilmu pengetahuan. Bahasa pengantar hanya Thai, mereka tidak paham bahasa internasional. Kami mencoba mengenalkan pentingnya bahasa luar,†tuturnya.
Ia bahkan ditempatkan di sebuah pulau kecil dekat perbatasan Malaysia. Sistem pendidikannya unik, semua usia bisa bersekolah dalam satu lembaga.
“Umur berapa pun boleh sekolah, dan masih banyak anak-anak yang belum mengenyam pendidikan dasar,†ungkapnya.
"Tapi itu tahun 2017 ya, entah sekarang seperti apa, kita belum sempat ke sana lagi," imbuhnya.
Teh Tarik di Indonesia Baru Booming Tahun 2020
[caption id="attachment_14997" align="aligncenter" width="680"]
Temmy P, Jurnalis anggota PWI Sumenep yang bertugas sebagai wartawan Beritajatim.com, melintas depan Teh Tarik Tepi Jalan depan RSUD dr. Moh. Anwar (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)[/caption]
Fenomena teh tarik di Indonesia, menurutnya, baru booming sekitar 2020. Namun, rasanya berbeda.
“Kalau di Indonesia, plusnya ya manis semua. Minusnya tidak ada keseimbangan. Kalau di Thailand, ada harmoni antara rasa teh murni dengan tarikan gelembungnya,†ujarnya.
Lebih dari Sekadar Minuman
Kisah Filzah dan Hendra memperlihatkan dua sisi yang berbeda namun bertemu dalam segelas teh tarik.
Bagi Filzah, ia belajar kemandirian lewat pekerjaan sederhana di tepi jalan.
Sementara bagi Hendra, segelas teh tarik adalah jembatan nostalgia yang membawanya kembali ke Negeri Gajah Putih.
Yap, di lapak kecil depan RSUD Sumenep, teh tarik telah menceritakan perjuangan, rasa, dan kenangan.***

