BIDAK CATUR ORANGE

dinding buta, dicungkil matanya. jam tak berdetak, ditikam jantungnya. jutaan kolimeter tak terhingga dalam hitungan jari menembus ruang. ia memperkenalkan dirinya sebagai waktu

hidup ditikam atau menikam bukankah jalan itu hanya satu? sekalipun banyak simpang jauh dekat tak ada beda karena jarak bukan masalah

seekor kuda meringkik. gemeretak kakinya sampai ke langit-langit. jadwal perdamaian dan serangakaian pidato bualan. dikotak warna merah. sejarah menjadi yatim piatu. tangannya dipotong. rahimnya dimusnahkan. para abdi didatangkan. menulis ulang jawaban dalam ujian. menyusun kotak-kotak dan garis pertahanan. lalu siapa yang mengemudi?

dan kita akan berhenti dan duduk sampai disini suara terbang dengan sendirinya. pion-pion berlarian. garis-garis pijakannya menjadi hidup. membuat bidak dengan warna lain.

2013

(Sumber: "Anomali", 2013)

KARENA HUJAN

Karena hujan, posisi langit memiring, Sedikit lebih ke kanan dan agak condong dekat dadaku. Baunya seperti tanah basah. Dan aku mulai memaknainya sebagai pertanda. Ada yang menengadahkan botol plastik kecil dan besar, ada juga yang menaruh gelas-gelas di halaman, begitulah cara mereka saat ini.

Karena hujan, kuping-kuping jadi lelah. Berbunyi di antara suara genting. Orang-orang masih sibuk di halaman, hujan, dan karenanya aku tak bisa pulas lagi