Ia juga menegaskan bahwa pihaknya dilarang menggunakan menu industri seperti biskuit yang lebih tahan lama. “Kalau boleh pakai industri, kami pilih biskuit saja. Tapi aturan melarang,” katanya.

Sebagai bentuk pengawasan internal, Mawardi menyebut setiap sampel menu disimpan di freezer hingga keesokan harinya untuk memastikan kualitas menu rangkap hari yang dibagikan tetap bisa ditelusuri ketika ada komplain. Jika laporan disampaikan pada hari yang sama, pihaknya mengklaim masih dapat memberikan respon cepat.

Mawardi lanjut meluruskan anggapan bahwa pihaknya menentukan sendiri lembaga penerima manfaat MBG. Ia menegaskan data wilayah pembagian berasal dari Koramil setempat.

Jika ada dapur lain yang belum siap mendistribusikan menu, barulah dialihkan ke dapur yang ia kelola melalui prosedur proposal resmi.

Program MBG yang sedang berjalan, kata Mawardi, merupakan periode kedua dengan jumlah penerima manfaat yang meningkat dari sekitar 2.200 menjadi 2.700 siswa. ***