NEWS SUMENEP,  DIMADURA – Puluhan karyawan BMT NUansa Umat (BMT NU) Jawa Timur di sejumlah cabang memilih mengundurkan diri dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan penelusuran media ini, alasan utama mereka adalah kebijakan pengurangan gaji serta tidak adanya kejelasan terkait keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS Kesehatan.

Dari belasan karyawan dan eks karyawan BMT NU yang diwawancara media ini, hanya satu orang yang mengaku menerima pesangon saat berhenti. Namun, seluruhnya menyatakan tidak pernah terdaftar sebagai peserta BPJS selama bekerja.

Mereka mengaku telah bekerja bertahun-tahun tanpa jaminan sosial, sementara kewajiban perusahaan bersifat absolut dan tidak terkait durasi masa kerja.

Salah satu yang mengaku demikian adalah eks Kepala Cabang BMT NU di salah satu kecamatan yang tidak berkenan disebutkan namanya. Ia mengungkapkan 9 orang teman kerjanya sudah mengundurkan diri.

“Berhenti semua, sembilan orang. Kurang paham juga, tiba-tiba teman-teman gugur satu per satu, jadi berhenti juga saya,” akunya kepada wartawan, Kamis (4/11).

Anggap saja namanya Fulan. Ia mengaku bekerja di BMT NU lebih dari empat tahun tetapi tidak belum didaftarkan ke BPJS, baik ketenagakerjaan maupun jaminan kesehatan.

“Belum didaftarkan (BPJS), saya kan hanya 4 tahunan, itu yang didaftarkan yang di atas 5 tahun. Tapi dapet pesangon,” katanya.

Kini ia beralih mencari nafkah di laut. “Majâng (menjaring ikan, red). Nggak ada apa-apa, hanya ingin cari pengalaman lain,” tukasnya.

Sumber lain, eks karyawan Swalayan BMT NUansa yang bekerja selama lebih dari 5 tahun masa kerja, juga mengaku tidak didaftarkan BPJS. "Nggak ada, baru kalau masa kerjanya di atas 5 atau 6 tahun, baru mungkin didaftarkan," katanya.

Ia bahkan mengaku tidak mendapatkan pesangon setelah resign. "Nggak ada, mana ada pesangon di BMT NU, saya kan 5 tahun 6 bulan, nggak ada, nggak dapet," imbuhnya.