tanah yang becek menyisakan derap kaki para perantau. di tangannya, sebilah pisau siap menikam jantung kota. kota leluhur yang disulap jadi pariwisata. seekor kucing mengiau, mengendus bau amis ikan dari balik pintu.

kota leluhur mendendangkan sebuah lagu. seorang laki-laki berjingkrak-jingkrak. menumpas dunia. sementara malam menggulung apa pun yang belum selesai: dendam, doa, dan sejarah yang terus memohon untuk diingat kembali.

malam makin menipis. bayangmu makin memanjang. menutupi langkah para perantau yang terus berdatangan. membawa puisi. mencari cahaya dari kota yang sudah letih ini.

Sumenep, 2025


Rifky Raya, nama puisi dari M Rifqiyadi, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Saat ini, aktif sebagai jurnalis di LensaMadura.com sekaligus aktor di Language Theatre Indonesia.