SEJARAHÂ – Mercon, menara, dan sebutan Bulan Suro bagi masyarakat Jawa kerap dianggap berdiri sendiri tanpa kaitan historis.
KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menguraikan bahwa ketiganya justru berakar dari satu sumber penting bernama, Persia.
Ia merunut jejak peradaban Majusi, tragedi Karbala, hingga kebiasaan budaya yang mengalir ke Nusantara dengan menempatkan bulan Muharram sebagai fase duka dan momentum peristiwa besar dalam sejarah keluarga Rasulullah.
“Pada bulan Muharram, yang tradisinya diperingati dengan santunan anak yatim, itu adalah mengenang sebenarnya sejarah dimana keluarga Rasulullah, yaitu Sayyidina Husein, dibantai di Karbala pada tanggal 9 Muharram, atau 9 Asyura,†ungkapnya.
Menurut Gus Muwafiq, tragedi yang menimpa cucu Nabi itu merupakan akibat dari pertentangan politik yang memanas pada masa awal pemerintahan Islam.
“Jadi, Sayyidina Hussein itu meninggal dengan cara dibunuh karena konflik politik. Makanya politik itu hati-hati. Karena politik itu, kalau sudah enggak terkendali, bahkan cucu Nabi pun menjadi syahid karena peristiwa politik, yang pada waktu itu konflik dengan Bani Umayyah,†simpulnya.
Dijelaskan, bahwa di tengah ketegangan politik saat itu, Sayyidina Husein memilih menjauh dari pusat kekuasaan untuk meredakan situasi.
“Untuk menghindari konflik, Sayyidina Husein waktu itu pulang kampung, karena Sayyidina Husein itu sudah tidak tinggal di Mekah atau Madinah. Tapi tinggalnya di Basrah, Basrah itu ya sekitaran Iran-Irak,†jelasnya.
Penjelasan itu membuka jalur keterhubungan antara keluarga Rasulullah dengan Persia, suatu keterkaitan genealogis yang jarang disinggung namun menjadi kunci memahami tradisi di berbagai wilayah.
“Sayyidina Hussein itu menantunya Raja Rustum. Yang dulu di Jawa dikenal dengan sebutan Rustam. Aslinya Rustum. Rustum itu Raja Parsi. Parsi itu ya Iran sekarang itu,†terangnya.