“Dalam sejarahnya, Sayyidina Husein sebagai menantu Raja Parsi terbunuh. Makanya orang Iran itu yang disebut Syiah, (sehingga sebagian mereka, red) yang kalau berduka, itu sampai melukai diri sendiri, karena berduka atas nama keluarga.â€
Gus Muwafiq menekankan bahwa ekspresi itu muncul dari rasa kekeluargaan yang mereka yakini.
“Jadi orang Iran itu merasa berkeluarga dengan Sayyidina Husein, karena Sayyidina Husein (cucu Nabi Muhammad, red) adalah menantu Raja Rustum.â€
Pengaruh tragedi Asyura kemudian meresap jauh, termasuk ke tanah Jawa. Sebutan Suro dalam kalender Jawa lahir dari proses penyerapan fonetik kata Asyura.
“Beliau terbunuh di bulan Asyura. Makanya kalau di tempat saya, bulan Muharram itu disebut bulan Sura atau Suro. Asyura diambil belakangnya Syuro, kayak Muhammad ambil belakangnya Mat. Abdurrahim, Rokim gitu.â€
Asyura dipahami sebagai bulan duka, sehingga umat Islam pada masa awal menghindari kegiatan yang bersifat pesta atau sukacita.
“Pulan Asyuro ini akhirnya kemudian diperingati oleh seluruh kaum muslimin, bahwa ini bulan duka. Maka di bulan itu, dulu seluruh kaum muslimin tidak bikin kegiatan yang sifatnya senang-senang.â€
Dalam tradisi Jawa, sikap berkabung itu melebur menjadi sejumlah pantangan sosial yang bertahan hingga hari ini.
“Makanya di bulan Suro itu orang tidak mantu, tidak menikahkan anak, tidak mengkhitankan anak, tidak pindah rumah. Pokoknya kegiatan-kegiatan yang sifatnya senang-senang, dihindari di bulan Suro, sebagai bentuk akhlak kaum muslimin, berduka terhadap keluarga Rasulullah.â€
Gus Muwafiq menegaskan bahwa bentuk penghormatan yang paling utama pada bulan duka itu adalah dengan menggelar seremonial santunan kepada anak yatim.