[caption id="attachment_18549" align="aligncenter" width="700"]Kunjungi Pesantren Kyai Mudrikah, Kepala Kankemenag Jatim Ungkap Makna Nyambhung Bhâlâ sebagai Tradisi Keilmuan Potret Suasana Nyambhung Bhâlâ saat kunjungan Kakanwil Jatim di Ruang Tamu Pesantren Kyai Mudrikah (Foto: Hairul Anam/doc.dimadura)[/caption]

Menurut Sruji, momen Nyambhung Bhâlâ mengingatkan pesantren pada akar sejarahnya. Ia memberikan dorongan moral agar pesantren menjaga arah perkembangannya.

“Masa depan pesantren selalu terhubung dengan akar sejarahnya. Dari sanalah kekuatannya,” simpulnya.

Kunjungan Kakanwil ke IBS PKMKK juga ditandai dengan penyerahan simbolik 197 judul buku ber-ISBN karya santri. Penyerahan itu memuat pesan penting tentang pergeseran posisi pesantren dalam ekosistem keilmuan. Pesantren mulai bergerak dari posisi “konsumen ilmu” menuju “produsen ilmu.”

“Produksi buku oleh santri menunjukkan budaya literasi yang tumbuh sebagai kerja kolektif. Setiap buku mewakili proses panjang membaca, berdiskusi, menulis, dan menerbitkan. Aktivitas menulis juga membentuk habitus intelektual santri. Mereka dilatih untuk berpikir sistematis dan reflektif,” ungkap Dirut IBS PKMKK, Achmad Muhlis.

Muhlis menambahkan bahwa penyerahan buku Konsep Kurikulum Al-Muwahhid memperlihatkan posisi literasi yang tidak berdiri sebagai program tambahan. “Literasi menjadi bagian dari desain pendidikan IBS PKMKK yang menggabungkan ilmu keislaman, ilmu umum, karakter, dan keterampilan abad 21,” katanya.

Penyerahan profil kelembagaan bersama ratusan karya santri itu menegaskan hubungan antara identitas institusi dan produktivitas intelektual.

Peristiwa tersebut juga membuka ruang dialog simbolik antara negara dan pesantren. Negara mengakui kontribusi pesantren. Pesantren menunjukkan kesiapan menjadi mitra dalam pembangunan sumber daya manusia.

"Dari itu, maka arah pendidikan pesantren saat ini sebenarnya sudah menempatkan literasi sebagai fondasi pembentukan karakter dan kompetensi di abad 21," lanjut pria yang saat ini menjabat Ketua Senat UIN Madura, Pamekasan.

Menurutnya, penyerahan 197 buku tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa pesantren sedang meneguhkan dirinya sebagai bagian dari peradaban literasi. "Buku-buku tersebut menjadi jejak yang menandai masa depan yang sedang ditulis oleh para santri," pungkasnya.

***