Proses kemudian dilanjutkan ke tahap pengukiran dan finishing di kediaman Arjun Supriyanto, mahasiswa UPI Sumenep.

 

Di lokasi tersebut, mahasiswa secara gotong royong menyelesaikan bagian warangka dan hulu keris hingga menjadi satu kesatuan karya yang utuh dan bernilai seni tinggi.
 

Hasilnya, tercipta sebuah keris jenis Kamardikan (kreasi baru) dengan pakem Mataram, mengambil dhapur Nogo Pertolo.

 

Keindahan keris ini semakin menonjol dengan pamor Kulit Semongko serta warangka model Gayaman Solo yang memberikan nilai estetika dan filosofi budaya yang kuat.
 

Salah satu mahasiswa, Anisyah, mengaku pengalaman tersebut menjadi momen berharga yang tidak akan terlupakan.
 

“Seru banget, ini pertama kalinya saya dan teman-teman belajar langsung seperti empu. Ternyata proses pembuatan keris itu sangat detail dan butuh kesabaran luar biasa,” ungkapnya.
 

Hal senada disampaikan Ketua Kelas PGSD Kelas C, Anggita Eka Wulandari, yang mengaku bangga atas kekompakan tim dalam menyelesaikan proyek budaya tersebut.
 

Keris ini hasil kerja sama satu kelas. Kami benar-benar belajar dari nol sampai jadi. Awalnya sempat ragu, tapi ternyata bisa selesai dengan hasil yang membanggakan,” tuturnya.