SUMENEP, DIMADURAMaharaya Festival 2026 menghadirkan pendekatan baru dalam seni pertunjukan dengan menjadikan jalan raya sebagai sumber utama penciptaan karya tari.

Konsep tersebut terus diperkenalkan penyelenggara menjelang pelaksanaan festival yang akan digelar pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Selama ini, jalan raya lazim dipahami sebagai ruang mobilitas masyarakat. Kendaraan melintas, warga berpindah tempat, dan aktivitas ekonomi berlangsung di dalamnya.

Maharaya Festival justru memandang ruang publik tersebut sebagai titik awal lahirnya gagasan artistik sebuah koreografi.

Salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis, mengatakan bahwa banyak pertunjukan tari di ruang publik sebenarnya merupakan karya yang semula diciptakan untuk panggung konvensional.

Setelah itu, karya tersebut dipindahkan ke ruang terbuka untuk dipentaskan.

“Kami ingin membalik cara pandang itu. Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi,” ucap Khalis di Sumenep.

Menurut dia, setiap ruang memiliki karakter yang akan memengaruhi pilihan artistik seorang koreografer. Oleh sebab itu, karya yang dirancang sejak awal untuk dipentaskan di jalan raya akan menghadirkan bentuk, komposisi, dan pengalaman pertunjukan yang berbeda dari karya yang dibuat untuk panggung tertutup.

Pendekatan tersebut diterapkan sejak tahap perancangan karya. Koreografer diajak mengeksplorasi gerak, pola lantai, komposisi penari, arah hadap, hingga relasi antara penari dan penonton dengan mempertimbangkan karakter jalan raya sebagai panggung utama.

“Pilihan gerak, arah hadap penari, komposisi pertunjukan, bahkan cara penonton menikmati karya tentu akan berbeda. Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya,” jelas Khalis.