Melalui konsep itu, lanjut dia, maharaya Festival berupaya menghadirkan perspektif baru dalam ekosistem seni pertunjukan.
Jalan raya tidak lagi dipandang sebagai ruang yang hanya menampung pertunjukan, melainkan sebagai unsur yang turut membentuk identitas artistik sebuah karya.
Selain menampilkan pertunjukan seni, festival ini juga dirancang sebagai ruang kolaborasi antara seni pertunjukan, ekonomi kreatif, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhi berbagai aktivitas budaya serta keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Khalis berharap Maharaya Festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan dan eksperimen baru dalam seni pertunjukan.
“Kami ingin Maharaya menjadi ruang lahirnya cara-cara baru dalam berkarya. Semoga festival ini dapat menginspirasi para seniman untuk terus bereksperimen, sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang berani menawarkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan,” ujarnya.
Maharaya Festival 2026 mengusung tema “Gelombang dari Pesisir”. Festival tersebut masuk dalam Sumenep Calendar of Event 2026.
Penyelenggara melibatkan praktisi dan akademisi tari, komunitas dan sanggar seni, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam pelaksanaannya. ***

