SUMENAP, DIMADURA–Sebuah video yang memperlihatkan adu argumen antara keluarga pasien dan seorang perawat di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Jawa Timur, menjadi perbincangan di media sosial TikTok.
Perselisihan itu berkaitan dengan pertanyaan keluarga pasien mengenai penanganan medis yang diberikan kepada anggota keluarganya.
Video berdurasi sekitar 1 menit 30 detik tersebut memperlihatkan seorang pria meminta penjelasan kepada perawat mengenai tindakan medis sebelum pemberian obat. Rekaman itu telah ditonton ribuan kali dan memicu beragam tanggapan warganet.
Video tersebut diunggah melalui akun TikTok @patah.tpi.kuat dengan nama SaAeLau.
Dalam keterangannya, pengunggah menyebut pasien yang dibicarakan dalam rekaman merupakan anggota keluarganya yang tengah menjalani perawatan di RS BHC Sumenep.
Pengunggah juga melontarkan dugaan kelalaian terhadap salah satu petugas rumah sakit.
Ia mempertanyakan penanganan pasien yang disebut mengalami muntah-muntah hingga cairan keluar melalui hidung dan mulut.
Dalam unggahannya, pengunggah turut mempersoalkan kondisi infus yang disebut dimatikan ketika pasien mengalami muntah-muntah.
Ia juga mempertanyakan keputusan perawat yang, menurut versinya, meninggalkan pasien dalam kondisi tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, seorang pria terdengar menanyakan kondisi pasien sebelum obat diberikan.
“Pasien dalam keadaan sadar kan? Keluhannya hanya nyeri perut,” ujar pria tersebut.
Perawat berseragam biru dan berkerudung abu-abu itu kemudian menjelaskan urutan pemberian obat. Saat itu, ia didampingi seorang petugas keamanan rumah sakit.
Menurut penjelasan perawat dalam video, pasien dijadwalkan menerima obat pereda nyeri perut sekitar pukul 17.00 WIB.
Ia juga menyatakan telah menjelaskan fungsi obat kepada pasien sebelum pemberian.
“Setiap saya ngasih obat, saya bilang kepada pasiennya, ini untuk penghilang muntahnya. Sementara obat penghilang nyerinya saya masukkan terakhir,” kata perawat tersebut.
Percakapan kemudian berlanjut pada kondisi pasien setelah mengalami muntah-muntah. Keluarga pasien mempertanyakan tindakan perawat yang disebut meninggalkan pasien saat infus dalam keadaan mati.
“Mbak, dengan kondisi pasien muntah-muntah, infus dimatikan, lalu mbak tinggalkan?” tanya pria tersebut.
Pria itu kembali meminta penjelasan dari perawat mengenai tindakan yang dipersoalkannya.
“Pasien dalam keadaan muntah, mbak tinggalkan? Maksud mbak gimana jadi perawat? Ayo jawab,” lanjutnya.
“Dr skit biasa masuk BHC sumenep berujung MAUT,,,, kelalaian salah satu pegawainya yg tidak bertanggung jawab entah apa yg ada di pikirannya sampai² nyawa orang di anggap UJI COBA,,,Dengan beberapa suntikan yg bisa menyebabkan kehilangan nyawanya letak kesalahannya dimna?? Ketika sedang berjuang dg cairn yg masuk kedalam tubuhnya dan cairan yg keluar dr hidung dan mulutnya DALAM KEADAAN INFUS DIMATIKAN dn perawatnya meninggalkannya.apakah ini layak di sebut penyelamat,,katanya perawat BHC sudah terpilih kok bisa seperti ini?,” tulis pemilik akun tersebut, sebagaimana dilansir dimadura.id pada Rabu (14/10).
Rumah Sakit Belum Memberikan Keterangan
Beredarnya video tersebut memunculkan perhatian publik terhadap pelayanan pasien di fasilitas kesehatan. Namun, tudingan yang disampaikan keluarga pasien dalam unggahan media sosial belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kelalaian medis.
Kronologi lengkap penanganan pasien, alasan pemberian obat, kondisi infus, serta tindakan petugas setelah pasien mengalami muntah-muntah masih memerlukan penjelasan dari pihak rumah sakit dan pemeriksaan berdasarkan catatan medis.
Hingga berita ini ditulis, redaksi media ini bersama media lain telah berupaya meminta konfirmasi kepada pihak RS BHC Sumenep melalui kontak humas rumah sakit. Namun, belum ada jawaban yang diterima.
Pihak rumah sakit juga belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kronologi kejadian maupun tanggapan atas dugaan yang disampaikan keluarga pasien.
Dengan demikian, penyebab kejadian dan ada atau tidaknya pelanggaran terhadap prosedur pelayanan medis belum dapat dipastikan.
Konfirmasi dari pihak rumah sakit diperlukan agar persoalan ini dapat dipahami secara utuh dan berimbang. ***

