BUBUNGAN, KISAH MISTIS - Destinasi wisata Pulau Gili Labak, Sumenep, Madura, ternyata menyimpan kisah mistis tentang tempat keramat yang belum banyak orang ketahui.
Secara geografis, pulau kecil dengan kadar oksigen terbaik kedua di dunia ini terletak di Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Di sana, ada 4 situs bersejarah yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat keramat karena dihuni oleh 4 mahluk gaib.
4 mahluk gaib penjaga situs keramat di 4 sudut Pulau Gili Labak itu antara lain, 1) Nyaè-Kaè Tènglor, 2) Nyaè-Kaè Gârindung, 3) Bhuju' Eppal dan 4) Sumur Semmènan.
1) Nyaè-Kaè Tènglor
Lokasi situs Nyaè-Kaè Tènglor ini terletak di bagian tenggara (timur laut) Pulau Gili Labak. [caption id="attachment_3083" align="aligncenter" width="943"]
Khozaime (kiri), saat mengantar wartawan DimaduraID ke situs keramat Nyaè dan Kaè Tènglor (Dok. DimaduraID)[/caption]
BACA JUGA: Menelusuri Jejak Raja dan Ulama di Desa Bangkal
Hingga saat ini, masyarakat setempat percaya bahwa sepetak tanah yang ditumbuhi pohon raksasa bercabang-cabang di arah tenggara Pulau Gili Labak itu adalah letak makam Nyaè Tènglor dan Kaè Tènglor. Setiap kali punya nazar atau hajat yang tak kunjung tercapai, biasanya masyarakat di sini akan meletakkan bendera, sesajen dan uang sebagai tanda doa sekaligus penghormatan terhadap dua sesepuhnya itu. Tidak hanya dijadikan tempat menunaikan nazar, situs keramat ini juga menjadi tempat masyarakat sekitar memohon bantuan saat hendak menyambut keluarganya yang akan pulang dari rantau. "Jika ada kabar bahwa sanak-famili atau keluarga akan pulang di tanggal sekian, tetapi cuaca di tanggal itu sangat tak bersahabat, ombak sedang besar-besarnya, maka kita akan menaruk sesajen di sana, agar mereka bisa tiba di Pulau Gili Labak dengan selamat," terang salah satu penduduk Pulau Gili Labak, Khozaime kepada media ini beberapa waktu lalu. Entah kenapa, lanjut dia, dengan melakukan ritual tersebut biasanya gulungan ombak yang semula besar itu tiba-tiba merendah dan tenang. "Ya, maksudnya bukan memohon atau apa ya, tetapi ini sekadar tradisi penghormatan. Kita memohon dan menyembah tetap kepada Yang Mahaesa," imbuh narasumber lain, Ariyanto.
2) Nyaè-Kaè Gârindung
Tidak jauh beda dengan situs Nyaè-Kaè Tènglor, situs keramat Nyaè-Kaè Gârindung ini juga menjadi salah satu tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.BACA JUGA: Pasera Se Nemmo AQUA?
[caption id="attachment_3085" align="aligncenter" width="930"]
Situs Keramat Ju' Gârindung atau Nyai Kiai Garindung di Pulau Gili Labak (Dok. DimaduraID)[/caption]
Di saat-saat tertentu, masyarakat juga lumrah meletakkan sesajen dan bendera di situs ini.
Lokasi situs Nyaè-Kaè Gârindung ini terletak di sudut barat daya Pulau Gili Labak, dekatan pemakaman umum masyarakat Pulau Gili Labak.
Tepat di sebelah selatan pemakaman umum ini ada Masjid Al-Busyro, masjid yanh dibangun atas inisiatif eks Bupati Sumenep, A Busyro Karim, saat melakukan kunjungan bersama mantan istrinya, Nyai Mila.
[caption id="attachment_3082" align="aligncenter" width="919"]
Masjid Al-Busyro di Pulau Gili Labak (Dok. DimaduraID)[/caption]
Di sinilah tempat masyarakat setempat melakukan ibadah shalat Jumat, pengajian umum dan acara keagamaan lainnya.
"Kala itu, kalau nggak keliru sekitar tahun 2016, Nyai Mila melepaskan gelang emas yang beliau kenakan dan langsung menyerahkannya kepada kita buat modal mendirikan masjid ini," kata Khozaime.
3) Bhuju' Eppal
[caption id="attachment_3084" align="aligncenter" width="943"]
Situs Keramat Bhuju' Eppal di Pulau Gili Labak (Dok. DimaduraID)[/caption]
Lokasi Bhuju' Eppal terletak di sudut timur laut Pulau Gili Labak, tepat di sebelah timur Dermaga Utama Pulau Gili Labak.
BACA JUGA:Â 16 Contoh Seloka dan Peribahasa Madura tentang Ayam
Sayangnya, situs Bhuju' Eppal saat ini sudah tinggal namanya saja. Menurut keterangan penduduk sekitar, dulu, makam Bhuju' Eppal berada tepat di sebelah selatan Pohon Jhâbbâu. Pntauan di lokasi, saat ini makam tersebut sudah tak ada lagi, hanya ada rerimbun daun dan cecabang pohon jhâbbhâu. Walaupun demikian, masyarakat setempat tetap mempercayai bahwa situs Bhuju' Eppal ini juga termasuk salah satu penjaga 4 sudut Pulau Gili Labak.
4) Sumur Semmènan
Situs ini berada pas di selatan plang nama pantai Pulau Gili Labak. Di situ, ada pohon kurma kerdil yang sejak tumbuh hingga kini tetap hanya setinggi satu meter. [caption id="attachment_3080" align="aligncenter" width="892"]
Pohon Kurma, salah satu tempat keramat dalam foto ini berada tepat di hulu kursi rehat (Dok. DimaduraID)[/caption]
"Walaupun gitu keadannya jangan diremehkan, itu adalah sudut salah satu situs keramat penjaga pulau ini," kata Ketua RT Pulau Gili Labak, Abdul Jalil.
Pas di tempat pohon kurma tersebut tumbuh, menurutnya ada sumur ghaib, yang terkenal dengan sebutan "Sumur Semmènan". Walaupun saat ini sumur tersebut sudah tidak dapat terlihat mata biasa, "sudah tertutup timbunan pasir," katanya.
Cerita Jalil, jika sedang tak bersahabat, acapkali pengunjung yang datang dan tak sengaja melintasi situs ini, maka otomatis dia akan kesurupan.
Berdasarkan pengamatan Jalil, mereka yang kesurupan biasanya adalah orang-orang cantik.
BACA JUGA: 20 Kata-kata Bijak Inspiratif Bahasa Madura dan Artinya dalam Bahasa Indonesia
"Beberapa waktu lalu itu artis ya, waktu ambil film ke sini, entah siapa namanya sudah lupa. Kemudian baru-baru ini itu putrinya KH Thaifur Ali Wafa (Ambunten, red), cucu atau cicitnya Kiai Kholil Bangkalan juga sempat kesurupan di situ," ungkap Jalil. Setiap tanggal 1 Asyura, masyarakat setempat lumrah menggelar acara ngaji bersama sambilalu menaruk sesajen di atas pohon kurma tersebut. "Ya, dengan harapan keselamatan pengunjung, itu aja," imbuhnya.