---
8. Buah Simalakama
Buah ini dilemparkan di pangkuanmu, satu gigitan menjanjikan pahit-manis, satu gigitan mungkin racun.
Maka kau berhenti sejenak, berpikir tentang pilihan yang tak sungguh-sungguh bebas: jika dimakan, ibu mati, jika tidak, bapak binasa.
Namun dalam keheningan itu, kau sadar— mungkin buah ini memang tak perlu dimakan, cukup dilihat sebagai simbol, bahwa ada pilihan-pilihan yang lebih baik dibiarkan menjadi paradoks tanpa solusi.
--- Dengan gaya yang santai namun dalam, puisi-puisi ini menyuguhkan refleksi hidup melalui lensa filosofi sederhana ala Jokpin. Tidak hanya menyentuh tema-tema seperti penantian dan pilihan, namun juga menghadirkan paradoks yang menyentil dan mengajak berpikir ulang tentang hidup.
Bagi pecinta puisi, karya ini bisa menjadi inspirasi baru yang kaya akan makna. Menikmati puisi ala Jokpin adalah pengalaman yang menggugah, sebuah perjalanan singkat namun penuh pemikiran.
Semoga puisi-puisi filosofis ala Jokpin di atas mampu membawa paramaos dimadura pada renungan mendalam, seperti yang biasa kita temukan dalam karya Jokpin, dan memperkaya perspektif paramaos tentang dunia dan kehidupan sehari-hari. Selamat menikmati!
---

