SASTRA DIMADURA - Penggemar puisi Joko Pinurbo tentu mengenal kekuatan paradoks dan filosofi sederhana dalam setiap karyanya. Melalui permainan diksi dan perumpamaan yang khas, Jokpin — panggilan akrabnya — berhasil menciptakan kedalaman makna yang mampu menyentuh dan menggugah nalar pembaca.
Dalam artikel ini, redaksi hendak mengajak paramaos menelusuri puisi-puisi unik yang terinspirasi dari gaya Jokpin, fokus pada tema sederhana: buah.
Tema buah dipilih bukan tanpa alasan. Buah-buahan, dalam kesederhanaannya, menyimpan banyak pelajaran tentang hidup, pilihan, dan kerinduan manusia pada keindahan alami.
Puisi-puisi ini mengangkat buah sebagai metafora kehidupan, seperti bagaimana kita menunggu sesuatu matang, memetik apa yang diinginkan, atau terjebak dalam pilihan yang tak berujung.
Yuk, kita telusuri makna filosofis yang menggelitik dari setiap puisi berikut!
---
1. Musim Buah
Musim buah tiba dengan segala kemanjaan, merah, kuning, hijau, sekali belah, aroma tumpah ruah tanpa sekat. Manusia merayakan gigitannya, lupa bahwa setelah kenyang mereka hanya ingat bijinya saja.
Lalu, mereka bertanya: Mana musim buah yang dulu? Yang tumbuh di tanah hampa harap, tanpa panen, hanya sekadar mimpi. Bukankah lebih mudah merindukan buah yang tak pernah ada?
---
2. Memetik Buah Mangga
Mangga itu tinggi, tak terjangkau, kau yang di bawah hanya bisa menatapnya penuh harap, seraya bertanya pada angin, mungkinkah buah itu jatuh, seperti kata pepatah, tanpa melawan gravitasi?

