5. Mengenang Durian Runtuh
Buah durian, dengan tajam dan aromanya, tumbang tepat di halaman rumah. Berkah? Bencana?
Kau tersenyum kecut, menghitung untung, seperti menimang-nimang cinta yang berduri.
Oh, durian runtuh— buah yang jatuh tak diundang. Yang lebih dikenang mungkin, bukan dagingnya, tapi rasa pedih saat memungut serpihannya, dan bau yang menempel, tak mau lepas, seperti kenangan yang terjebak di udara.
---
6. Di Bawah Pohon Kelapa
Di bawah pohon kelapa, kau duduk merenung, memandang buah yang menggantung tenang. Kau paham betul, satu angin kencang saja, ia bisa jatuh. Ah, begitulah hidup ini, selalu menunggu yang tak bisa diterka.
Namun kelapa itu tetap bergeming, ia tahu, jatuh adalah kodratnya, meski tak pernah tahu kapan. Kau tersenyum, berpikir: menunggu atau dijatuhi, bukankah hanya soal nasib belaka?
---
7. Lahang Siwalan
Lahang yang menetes dari pohon siwalan, memikat, manis setetes demi setetes, seperti kepastian yang terus ditunggu.
Ia tak segera jadi tuak, menahan waktu, meresapi takdirnya, menjaga diri tetap tawar di tengah harap manis.
“Minumlah pelan-pelan,†katanya, karena hidup ini, seperti lahang, perlu diserap sebelum kita memabukinya.

