Lalu kau berdoa, dengan hati getir, agar mangga tak menghantam kepala, agar jatuhnya mulus dalam pangkuan. Ah, bukankah hidup ini juga begitu, mengharap, memetik, tanpa tahu, apakah yang dipetik manis atau sekadar ilusi?

---

3. Pilih Nangka atau Cempedak

Dalam hidup ini selalu ada pilihan— Nangka atau Cempedak, di bawah pohon atau jauh dari pokoknya.

Kau menimbang, yang satu harum, yang satu liat, satunya manis, satunya lengket. Mungkin hidup adalah setangkai nangka yang tersisa, atau cempedak yang hanya jadi bayangan.

Pada akhirnya, pilihan bukan soal manis atau lekat, melainkan yang kau tanggung setelahnya: lengket di lidah atau di tangan.

---

4. Menunggu Pisang Matang

Di gardu sawah emak, seikat pisang menggantung. Kuningnya samar, hijau bertahan, membuat sabar berdiri dan menunggu.

Setiap hari kau cek warnanya, serupa menanti janji yang tak kunjung sempurna. Sambil berkata pada diri, “Barangkali besok, atau lusa, ia akan benar-benar matang.”

Namun di hari pisang sempurna menguning, kau justru lupa memetiknya, dan ia busuk perlahan di tempatnya, tersenyum pahit seolah berkata, “Tak semua yang matang harus dinikmati, bukan?”

---