Stereotype dan pandangan semacam ini sebenarnya disayangkan sebab AI sejatinya merupakan tools atau alat yang bisa digunakan untuk membantu siswa belajar, bukan menggantikan.

Ia ibarat susu formula (sufor) yang tidak bisa menggantikan Air Susu Ibu (ASI). Secanggih apa pun manusia memperbaiki kandungan sufor, peran dan kandungannya tidak akan pernah bisa menggantikan Air Susu Ibu.

Artificial Intelligence sebagai Learning Tools

Saat dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan keberadaan PISA (Program for International Students Assesment) dan kecerdasan buatan, OECD, penyelenggara PISA, justru memberi tanggapan positif atas keberadaan dan perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam laman resminya, OECD menyebut akan menggunakan tema dan mengimplementasikan AI sebagai bagian dari pemahaman seseorang tentang literasi (OECD, 2024).

Dalam komponen kompetensi yang diukur dalam PISA, OECD memasukkan kompetensi penggunaan learning tools sebagai bentuk capaian dalam kemampuan literasi.

Ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi seseorang menggunakan learning tools utamanya tampak saat memecahkan masalah. Ia menjadi indicator utama kreativitas yang menjadi titik pangkal seseorang memiliki HOTS.

Literasi digambarkan bukan hanya tentang membaca atau memahami teks, namun juga memanfaatkan segala daya yang ada, termasuk teks dan informasi, untuk memecahkan masalah tertentu.

Pendapat OECD ini juga didukung oleh beberapa peneliti seperti Xia (2023) dan Butler and Starkey (2024) yang menemukan bahwa AI dapat digunakan siswa untuk belajar mandiri selama ia sudah memahami kedudukan, peranan, dan kelemahan dari kecerdasan buatan.

Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan

Penggunaan AI untuk memecahkan berbagai masalah dan memenuhi sekian kebutuhan pembelajaran merupakan keniscayaan.

Ia juga sesuai dengan tujuan dan prinsip teknologi Pendidikan untuk mengatasi masalah belajar dan meningkatkan kinerja dengan cara mencipta, mengelola, atau pun menggunakan segala sumber teknologi dan mengelola proses secara tepat. Untuk itu, AI harus mulai dikenalkan kepada siswa mulai dari peran dan kedudukannya. Ini akan mengarahkan siswa untuk menggunakan AI secara cerdas dan bijak, bukan melalui eksplorasi mandiri tanpa batasan dan bimbingan guru sebagai transformator pendidikan.

Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran berbasis teknologi sambil tetap berorientasi pada materi (Technological-Pedagogical-Content Knowldge) menjadi sangat penting.