Dalam hal ini TKR – Jawatan Penerbangan, ternyata tanpa banyak pertimbangan Halim Perdana Kusuma menyatakan bersedia.
Tanggal 9 April 1946 Tentara Keamanan Rakyat – Jawatan Penerbangan secara resmi dirubah menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia.
Maka pada tanggal 23 April pukul 12.00 WIB tiga buah pesawat AURI bermotor satu meraung-raung di atas kota Jakarta mengadakan percobaan penerbangan. Yang menjadi Pilot adalah Halim Perdana Kusuma.
Dengan pesawat udara bekas sudah tua dan kuno, beliau berani menyerang tempat strategis milik Belanda, baik siang maupun malam.
Seperti yang dilakukan waktu pemboman kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang, yang dikenal dengan istilah “Palagan Ambarawaâ€.
Berhubung keadaan negara semakin genting, maka para Perwira/Komandan diperintahkan segera kembali ke Pos masing-masing dalam waktu 24 jam.
Atas dasar perintah tersebut maka Letkol R. Chandra Hassan selaku Komandan Resimen 35 Jokotole yang ada di Yogyakarta mengambil inisiatif untuk segera kembali ke Madura dengan naik Pesawat Udara.
[caption id="attachment_8109" align="aligncenter" width="485"]
Halim Perdana Kusuma, pilot pesawat Dakota 001 waktu penerjunan payung yang pertama tanggal 20 Oktober 1947 di Panglegur Sumenep (Sumber Foto: Tadjul Arifien R./Dokumen dimadura) Payung Pertama di Sumenep, Commodor Halim Perdanakusuma warga Kepanjin Sumenep (Foto: Tadjul Arifien R./Dokumen dimadura)[/caption]
Tanggal 10 Maret 1946 pukul 10.00 WIB Letkol R. Chandra Hassan berangkat bersama ajudannya dengan naik pesawat udara dari lapangan terbang Maguwo dikemudikan Komodor Halim Perdana Kusuma.
Pesawat udara mendarat di Malang untuk mengisi bahan bakar kemudian terbang menuju Sumenep, pada pukul 12.00 WIB tiba dan mendarat di lapangan tembak Skep (Schietteriin).
Dalam pendaratannya, roda pesawat tersandung batu hingga mengalami kerusakan, setelah diperpaiki oleh tenaga teknis dari PN. Garam, pesawat udara tersebut dapat terbang kembali ke Yogyakarta.