OBITUARI, DIMADURAAbdul Haris DAP lahir pada tahun 1925 di Kampung Nyangkreng, Desa Arjasa Pulau Kangean. Merupakan putera tertua dari Amin Darin dan Baitiyah, dari lima bersaudara.

Kehidupan masa kecil Abdul Haris DAP sangat prihatin, sehingga ikut mencari nafkah untuk makan empat adiknya yang menjadi yatim dengan harus berjualan ikan asin dan terasi. Rumah tinggal keluarga ludes terbakar, hanya menyisakan sehelai baju dan mangkok, yang dipakai bergantian dengan adik-adiknya.

Tidak tahan dengan kondisi keluarga yang serba susah serta dilandasi semangat cinta tanah air, Abdul Haris DAP lalu meniti karir di dunia militer. Ia berangkat ke Pulau Madura dengan tidak membawa uang sama sekali karena orang tua sudah tidak punya apa-apa lagi.

[caption id="attachment_14145" align="aligncenter" width="680"]Pantai Kangean 1 (Foto - Tadjul Arifien R) Pantai Kangean 1 (Foto - Tadjul Arifien R)[/caption]

Konon, Abdul Haris hanya membawa bekal tiga biji pisang emas disertai do'a. Itupun berangkat ke pulau Madura dengan ikut menumpang perahu layar pengangkut sapi dan kerbau.

Di rantau, memulai dengan mengikuti pendidikan di kesatuan infanteri KNIL pada sekitar tahun 1940-an. Abdul Haris juga pernah terlibat perlawanan menyerbu tentara Jepang di Madura, yang sebelumnya dididik sebagai Gyugun waktu mengikuti pendidikan tentara PETA di Bangkalan. Karena memiliki keberanian, kecakapan dan talenta militer yang istimewa, Abdul Haris diangkat menjadi opsir dengan pangkat Letnan.

Ketika dibentuk TKR di kepulauan, Letnan Abdul Haris bersama Letnan Abdul Azis membentuk Kompi Khusus, yang disebut Kompi Ist/KS (Kompi Istimewa Kangean Sepudi). Bersama dengan lima temannya, yakni Letnan Abuyamin, Letnan Misradin, Letnan Abdul Kadir, Letnan A. Afandie, dan Letnan Abdul Hamid, Letnan Abdul Haris adalah perwira pertama yang menjadi pelatih TKR di Madura, Sumenep, Kangean dan Sepudi.

Selain itu, Abdul Haris dengan guru pejuang dan laskar Pesindo juga ikut bertanggung jawab untuk menahan dan memblokade Pulau Sapeken dari manuver pasukan Belanda. [caption id="attachment_14144" align="aligncenter" width="680"]Pantai Kangean 2 (Foto - Tadjul Arifien R) Pantai Kangean 2 (Foto - Tadjul Arifien R)[/caption]

Tahun 1947 kapal Belanda "Van Hallen" mendarat di Kalisangka Kangean, mereka membawa pasukan Gajah Merah yang terkenal kejam, dipimpin Letnan Hermintuil. Para pejuang termasuk Letnan Abdul Haris ditangkap dan disiksa. Mereka lalu dibawa ke Penjara Kalisosok, Surabaya.

Ketika Belanda mendirikan cikal bakal Negara Madura, dimana Kangean bebas menentukan sikap, masyarakat Kangean dianjurkan ikut Negara Madura oleh Wedana Kangean, Syafiuddin Astroyudo meskipun dengan pura-pura tunduk.

Letnan Abdul Haris satu-satunya tokoh yang menentang keras usulan tersebut tanpa kompromi karena hanya akan jadi boneka kolonial.