Kala itu Belanda telah mendarat di Kangean melalui Pulau Saobi, Bungin Nyarat dan Sabuntan. Mereka dihadang oleh pejuang Kangean, dipimpin Letnan Abdul Haris, yang begitu semangat menyambut musuh. Terjadi miskomunikasi, Abdul Haris menyerbu musuh dengan berondongan senapan, hingga ‘salah sasaran’ mengenai perahu nelayan.
Namun tidak ada korban, karena tindakannya sebagai taktik dan ‘psywar’ bahwa pejuang lokal sudah siap melawan Belanda yang datang untuk menggertak rakyat Kangean.
Tugas terakhir Letkol Abdul Haris yakni memegang jabatan penting di eks Tentara & Teritorium Divisi Lambung Mangkurat yang berpusat di Banjarmasin, yang kemudian dipecah jadi Kodam XII Tanjungpura dan Kodam VI Mulawarman.
Saat jatuhnya Orde Lama, Abdul Haris juga terlibat dalam operasi penumpasan G30S/PKI tahun 1965, dan GPRS/Paraku di Kalimantan Utara. Dalam mengemban peran Dwi Fungsi ABRI sebagai kekuatan sosial politik, Abdul Haris pernah diusulkan sebagai Bupati Sumenep pada awal Orde Baru (1967), tapi ditolaknya. Karena Abdul Haris lebih memilih bertugas di daerah dengan meneruskan karir militer sebagai tentara profesional (back to basic).
Letkol Abdul Haris DAP wafat tahun 1969 di Palangkaraya Kalimantan Tengah dalam usia muda 44 tahun dengan naik pangkat jadi Kolonel (Anumerta) TNI-AD. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jokotole, Sumenep. Bersanding dengan para pahlawan, Kapten Tesna Widjaja, Kapten Metro Wijoyo, Letnan Martijam, Letkol Abdul Hamid, Prajurit Osman dan lainnya serta para pahlawan tak dikenal.***
Sumber / Referensi:
-
H Mustaji, BA. & Didik Hadijah HS, 1988, Perjuangan Rakyat Madura, Agung Karya Perkasa
-
Sulaiman, 1993, Masalah Pokok Sarasehan, Dewan Harian Cabang Angkatan 1945
-
Zainullah Ahmad, Resume Biografi Kolonel Abdul Harris DAP
-
Tadjul Arifien R, 2022, Perjuangan Rakyat Sumenep, Pustaka INDIS