Dinkes Sumenep Catat 1.548 Kasus Campak
NEWS DIMADURA, SUMENEP–Jumlah kasus campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran.
Hingga pekan pertama Agustus 2025, Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 1.548 kasus. Empat balita dilaporkan meninggal akibat penyakit menular tersebut.
Data kasus dihimpun dari 30 puskesmas dan empat rumah sakit rujukan, baik di wilayah daratan maupun kepulauan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menyampaikan bahwa sebagian besar pasien adalah anak usia di bawah lima tahun.
“Berdasarkan sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR), total kasus per minggu pertama Agustus mencapai 1.548,” ujar Syamsuri, Jumat (15/8/2025).
Menurut dia, campak tergolong penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Penularan bisa terjadi melalui udara, sentuhan langsung, hingga penggunaan barang pribadi secara bersama.
“Kontak erat, berganti pakaian, handuk, atau sabun secara bergantian dapat menjadi media penularan,” katanya.
Syamsuri menjelaskan, lonjakan kasus ini tidak hanya menyebabkan banyak anak jatuh sakit, tetapi juga berujung pada kematian. Sejak Februari hingga Juli 2025, tercatat empat anak berusia satu hingga empat tahun meninggal dunia.
”Keempat korban diketahui belum pernah mendapatkan imunisasi campak,”ungkap dia.
Untuk mencegah penularan semakin meluas, kata dia Dinas P2KB Sumenep memperkuat program imunisasi dasar lengkap.
Syamsuri menegaskan, partisipasi orang tua menjadi kunci dalam melindungi anak dari risiko campak.
“Anak-anak yang belum pernah diimunisasi sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun posyandu. Campak bukan penyakit ringan, karena penularannya cepat dan paling rentan menyerang balita,” ujarnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow




