Puisi-puisi Rifky Raya: Tentang Leluhur, Modernitas, dan Kota yang Retak
SASTRA, DIMADURA – Puisi-puisi Rifky Raya berikut seolah bergerak di antara reruntuhan ingatan dan hiruk modernitas yang terus menekan. Kota hadir sebagai tubuh yang retak; dipenuhi mesin, pasar gelap, pariwisata, dan simbol-simbol yang ganjil, namun menyimpan jejak leluhur yang tak pernah benar-benar pergi.
Dalam bahasa yang surreal dan gelap, Rifky menempatkan manusia sebagai saksi sekaligus bagian dari kekacauan itu. Melalui citraan babi, kucing, pisau, dan bayangan, puisi-puisinya ini seperti hendak menyingkap kegelisahan atas dunia yang kehilangan bahasa etiknya.
Leluhur, doa, dan sejarah berusaha bertahan di tengah kota yang letih, sementara para perantau datang membawa puisi sebagai bentuk perlawanan terakhir; upaya mencari cahaya di antara modernitas yang terus memecah ingatan.
KOTA BABI
bertemu kota ini, menghidupkan kembali tanah misteri. sepasang tangan melambai dari balik tembok besi, di atas kepalanya bertengger sekerat daging babi. hidup makin aneh. tak ada yang bisa diajak bicara. kota sudah dipenuhi gambar-gambar mesin, taman menekuri kesepiannya sendiri sambil menabur kembang ke balik selangkangan waktu.
angin turun pelan, menyapu bau karat manusia. manusia yang tak pernah selesai membicarakan dunia, modernitas adalah kunci. katanya. sambil mendengus mengelilingi kota. langit mengintip dari jendela surga, memaksa malam menelan seluruh warna yang tersisa.
sebuah bayangan terpeleset dari dinding, melempar tubuhku ke rimba hutan. tempat tanda tanya dimulai. aku mengikutinya sampai ke tikungan pasar gelap. di sana, seekor babi bermata cahaya menyuarakan modus dunia yang tak disebutkan dalam bahasa apa pun.
Sumenep, 2025
KOTA LELUHUR
sebuah jalan menanjak, di ujungnya gedung-gedung bertengger. memercikkan api di malam hari. dingin begitu nakal menyergap tubuh kita. langit menutup tirainya. ikan-ikan berloncatan di dalam pikiran, di balik kaca yang memantulkan wajah para leluhur.
tanah yang becek menyisakan derap kaki para perantau. di tangannya, sebilah pisau siap menikam jantung kota. kota leluhur yang disulap jadi pariwisata. seekor kucing mengiau, mengendus bau amis ikan dari balik pintu.
kota leluhur mendendangkan sebuah lagu. seorang laki-laki berjingkrak-jingkrak. menumpas dunia. sementara malam menggulung apa pun yang belum selesai: dendam, doa, dan sejarah yang terus memohon untuk diingat kembali.
malam makin menipis. bayangmu makin memanjang. menutupi langkah para perantau yang terus berdatangan. membawa puisi. mencari cahaya dari kota yang sudah letih ini.
Sumenep, 2025
Rifky Raya, nama puisi dari M Rifqiyadi, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Saat ini, aktif sebagai jurnalis di LensaMadura.com sekaligus aktor di Language Theatre Indonesia.
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow



