dimadura
Beranda Tomang Sampang Jejak Abdoel Kaffar dari Sampang Madura di Meja Sejarah BPUPKI

Jejak Abdoel Kaffar dari Sampang Madura di Meja Sejarah BPUPKI

Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Abdoel Kaffar (Foto; Arsip Nasional RI/Dok. dimadura.id)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SAMPANG, DIMADURA – Tak banyak yang tahu dari pesisir utara Madura pernah lahir seorang putra bangsa yang suaranya menggema hingga ke ruang sidang paling bersejarah menjelang kemerdekaan Indonesia.

Abdoel Kaffar, lelaki kelahiran Sampang yang dengan gagah berdiri membawa amanat rakyat Madura ke hadapan para pendiri bangsa dalam sidang BPUPKI, Juli 1945.

Ia bukan politisi besar atau tokoh pusat kekuasaan, melainkan seorang perwira militer yang mengerti betul arti kesetiaan, pertahanan, dan makna republik. Dari bibirnya mengalir Sumpah Madura ikrar setia rakyat kepulauan itu kepada Republik Indonesia yang belum genap lahir.

Abdoel Kaffar, Putra Sampang di Panggung Sejarah

Abdoel Kaffar lahir di Sampang, 14 Mei 1913. Pendidikan awalnya ditempuh di Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Ia kemudian menempuh berbagai pendidikan militer di Pamekasan, mulai dari Sekolah Opsir hingga Sekolah Senapan Mitrailleur dan Sekolah Racun Gas, antara 1929–1939.

Dengan disiplin keprajuritan tinggi, Kaffar meniti karier hingga menjadi Komandan II Kompi Barisan I di Bangkalan (1934–1942).

Semangat keprajuritan itulah yang kemudian ia bawa ke medan baru politik kemerdekaan saat dipercaya menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mewakili Madura.

Suara Madura di Tengah Perumusan Negara

Dalam Sidang BPUPKI pada 10 Juli 1945 di Gedung Tyuuoo Sangi-in (kini Kementerian Dalam Negeri), Kaffar menyampaikan pandangan yang menggugah, bukan hanya soal bentuk negara, tetapi juga tentang batas dan pertahanan nasional.

Ia membuka pidatonya dengan ucapan syukur atas terbentuknya negara dengan bentuk Republik Indonesia, seraya menegaskan bahwa rakyat Madura telah bersumpah setia membantu pemerintahan republik, apa pun bentuknya, selama demi persatuan bangsa.

“Bilamana pintu-pintu kita dapat dijaga oleh kita sendiri, ditutup dan dibuka sesuka kita sendiri, maka barulah penjagaan negara kita sempurna.”tegas Kaffar.

Baginya, pertahanan negara adalah soal kedaulatan mutlak. Ia menganalogikan Indonesia seperti rumah besar yang pintu-pintunya harus dijaga oleh tangan bangsa sendiri satu di timur dan satu di barat.

Ia menyoroti pentingnya wilayah Timor, Borneo Utara (Sabah–Sarawak), dan Papua sebagai bagian dari Indonesia merdeka. Bukan karena ambisi, tetapi karena dasar kebangsaan dan pengorbanan, sebab banyak putra Indonesia yang turut menumpahkan darah di wilayah-wilayah itu selama masa perang.

“Bukanlah kita bersifat meminta,” ujar Kaffar tegas, “hal itu beralaskan kebangsaan.”

Di akhir pandangannya, ia menekankan agar pertahanan dan batas negara ditetapkan melalui panitia khusus yang memahami strategi kebangsaan dan nilai pengorbanan rakyat.

Suara Abdoel Kaffar di ruang sidang BPUPKI bukan sekadar pidato seorang perwira, melainkan gema nurani dari tanah Madura.

Ia membawa pesan dari sebuah pulau kecil yang jauh dari pusat politik, tetapi dekat dengan denyut nasionalisme sejati.

Lewat “Sumpah Madura”, Kaffar menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari banyak tangan dari kota besar hingga desa pesisir, dari cendekiawan hingga prajurit lapangan. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan dan pengorbanan tak mengenal batas wilayah.

Kini, puluhan tahun kemudian, kisahnya menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya ditulis oleh mereka yang duduk di pusat kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang berdiri tegak di pinggir sejarah seperti Abdoel Kaffar dari Sampang, yang menyapa republik dengan kehormatan dan keberanian.***

Oleh; Tadjul Arifien R – Sejarawan Madura

Sumber: Risalah Sidang BPU-PKI, Sekretariat Negara Republik Indonesia (1995)

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan