dimadura
Beranda Lapak Bisnis Jualan Sepatu hingga Sukses Buka 8 Cabang, Kisah Anak Petani Pemilik Jaringan BRILink Terbesar di Sumenep

Jualan Sepatu hingga Sukses Buka 8 Cabang, Kisah Anak Petani Pemilik Jaringan BRILink Terbesar di Sumenep

Owner BRILink ANAS TRANSFER Sumenep berpose di depan outlet pusat miliknya di Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep. Usaha jasa keuangan ini telah berkembang menjadi 8 cabang di berbagai wilayah. (Foto: Istimewa/Doc. dimadura.id)

“Saya berangkat dari nol, modalnya juga nol. Benar-benar dari nol semua. Jatuh bangun, nangis sendiri itu sudah biasa. Tapi mimpi itu yang jadi bensin saya untuk terus maju.”


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS FEATURES, DIMADURA – Saat jurnalis media ini berkunjung untuk sekian kalinya, Sabtu 18 Oktober 2025, Anas sedang memberikan arahan kepada sejumlah karyawannya di BRILink miliknya yang baru ia buka, menyusul kantor BRILink yang ia buka sebelumnya di Paberasan, Parsanga, Pamolokan, dan Marengan Daya.

“Habis ini saya harus ke cabang yang di Baban, Kalianget Barat, sama di Batuan,” katanya.

Di ruang kecil yang dipenuhi deretan meja layanan dan monitor transaksi itu, Anas bergerak cepat. Teleponnya sesekali berdering, sementara beberapa karyawan bergantian menanyakan detail layanan.

Ritme yang tampak padat itu seperti bukan hal baru lagi baginya. Dari seorang anak petani yang pernah berjualan sepatu keliling, perjalanan Anas menuju pemilik jaringan BRILink terbesar di Sumenep adalah rangkaian panjang jatuh bangun yang ia jalani sejak remaja.

Setelah memberikan arahan, ia pun bercerita bahwa sebelum membuka BRILink, ia pernah mencoba berbagai usaha. Mulai dari menjual sepatu di Taman Bunga tanpa sewa toko, ikut bisnis jaringan, hingga menjadi distributor es. Semua ia jalani untuk bertahan.

“Saya mulai usaha itu sejak kelas 2 SMK, karena keterbatasan ekonomi keluarga. Orangtua saya petani, uang saku sangat terbatas,” tuturnya.

Saat masih duduk di bangku sekolah, ia mengaku sempat jualan jam tangan ke teman-temannya, bahkan menitipkan gorengan ke kantin demi mendapatkan komisi.

Baru setelah lulus SMK, ia memberanikan buka toko kecil-kecilan di daerah Kepanjin, Kecamatan Kota, Sumenep. Dan dari situlah jalan hidupnya perlahan berubah.

Kesempatan menjadi agen BRILink datang tanpa disengaja. Awalnya ia ingin menjadi mitra agen Pos, tetapi layanan pengiriman paket tidak berkembang seperti yang ia harapkan.

Ia kemudian mencoba membuka jasa transfer manual, dan justru layanan itulah yang tumbuh pesat. “Ternyata lebih maju jasa kirim uangnya,” kata Anas.

Dari situ, ia pun mencari cara agar bisa menjadi bagian dari agen BRILink. Cabang pertama ia buka di Paberasan, desanya sendiri, sekitar April–Mei 2017.

Lokasinya strategis, tepat di pinggir selatan trotoar timur Pasar Jangara, pasar yang sudah dikenal luas oleh warga setempat. “Sambutan warga begitu kuat, saya pun coba lebih percaya diri dan mulai membuka cabang-cabang baru setelahnya,” katanya.

Namun, kata dia, pertumbuhan jaringan tidak instan. Setelah berhasil mendirikan empat cabang awal, di Paberasan, Parsanga, Pamolokan, dan Marengan Daya, Anas sempat vakum selama enam tahun. “Baru dua tahun belakangan ini saya buka lagi,” ujarnya.

Dalam dua tahun itulah lahir cabang Gapura, Baban, Kalianget Barat, dan Batuan, menjadikan total jaringannya menjadi delapan cabang.

Untuk mendapatkan mesin EDC pertama, Anas mengingat hanya durasi waktu yang melekat di benaknya. Sekitar satu bulan sejak pengajuan, ia sudah memilikinya. “Karena semuanya semenjak saya ada tim, semuanya tim yang ngurus,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa penilaian awal saat hendak mengembangkan jaringan, biasanya harus terlebih dahulu melihat kesiapan outlet, lokasi, dan track record pasar. “Selama kriteria itu terpenuhi, prosesnya berjalan cepat,” imbuhnya.

Anas lanjut menceritakan bahwa perkembangan cabang-cabang miliknya tak lepas dari peran bimbingan BRI. Ia mengakui bahwa BRILink memberikan dukungan branding dan pendampingan yang kuat.

“Jadi kepada BRI, saya pantas berterima kasih karena bimbingan dan branding yang saya rasakan itu lebih tinggi dibanding agen-agen bank yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, layanan petugas BRI sangat aktif dalam memberikan arahan, termasuk melalui grup komunikasi khusus mitra.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Ia mengungkapkan bahwa beberapa kali sistem BRILink mengalami error, saldo kembali, atau transfer gagal akibat kesalahan teknis maupun human error. “Itu dua momok yang jadi ujian bagi kita,” akunya.

Di balik delapan cabang yang ia kelola hari ini, Anas menyimpan kisah perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. “Kalau dibilang sukses, saya kira belum sampai di sana,” katanya.

Namun, ia menyadari bahwa dorongan terbesarnya datang dari masa kecil yang penuh keterbatasan. Keinginan untuk membahagiakan keluarga adalah bahan bakar yang membuatnya terus melangkah, sekalipun sering jatuh dan kecewa.

“Kalau berbisnis itu mudah, mungkin semua orang akan memilih berbisnis. Berbisnis itu susah, berdarah-darah, saya pun mengalaminya. Jatuh bangun, nangis sendiri itu biasa,” ujarnya sambil tersenyum. Lalu melihat jarum jam di tangannya. “Eh, sudah pukul sepuluh. Maaf ya, nanti kita ngobrol lebih luwes lagi. Ini waktu saya harus geser,” tukasnya.

Sebelum beranjak, Anas minta sampaikan pesan lewat media ini kepada anak-anak muda. “Oh ya, titip pesan, boleh ya,” katanya.

“Jadi,” sambung dia, “temukanlah titik mimpi kalian, bahwa mimpi itu adalah bensin utama saat seseorang hampir menyerah. Pada intinya harus konsisten di jalan kita. Perjalanan ini nggak mudah, pasti ada lika-likunya dan pasti akan mengalami kegagalan,” pesan Anas.

Yah! Dari seorang remaja yang menjual jam tangan untuk uang jajan, hingga menjadi pemilik jaringan BRILink delapan cabang di berbagai wilayah Sumenep, perjalanan Anas adalah bukti, bahwa kerja keras, konsistensi, dan keberanian bertahan dapat membuka jalan yang sebelumnya tampak mustahil. ***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan