Surga Pembangunan dan Lingkungan yang Terabaikan
Oleh: Muhammad Hasbullah
Bagi banyak orang, tahu adalah makanan sederhana yang hampir setiap hari hadir di meja makan. Selain murah dan merakyat, tahu bisa diolah menjadi beragam sajian: tahu goreng, tahu krispi, pentol tahu, tahu kocek, tahu walek, tahu gojrot, siomay, tahu isi, dan masih banyak lagi. Ia telah menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat kita.
Namun, jarang sekali kita bertanya: bagaimana proses tahu diproduksi? Apa yang terjadi di balik kelezatan yang kita nikmati?
Seminggu dua kali, saya memiliki jadwal mengajar ke daerah Proppo. Dalam perjalanan pulang-pergi, ada satu hal yang hampir selalu menyertai, bau menyengat yang mengalir dari sungai kecil di pinggir jalan raya.
Bau asam bercampur anyir itu semakin tajam saat cuaca panas. Ketika hujan turun, limbahnya meluap dan menyebar, seperti tamu tak diundang yang sulit diusir.
Setelah bertanya kepada warga sekitar, saya mengetahui bahwa bau tersebut berasal dari limbah produksi tahu. Bagi masyarakat setempat, aroma itu bukan lagi hal asing.
Bahkan, seolah menjadi bagian dari rutinitas harian. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, bau itu seperti lebih dulu bangun menyapa warga.
Lalu saya berpikir: “Apakah ini harus menjadi hal yang biasa?”
Di satu sisi, saya bangga ketika sebuah desa memiliki usaha tahu yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Produksi meningkat, pesanan bertambah, pendapatan naik. Industri kecil seperti ini adalah denyut nadi ekonomi kerakyatan.
Namun di sisi lain, ada kegelisahan. Limbah yang dibuang sembarangan menjadi dosa jariah ekologis yang mengganggu kenyamanan warga. Bahkan di titik tertentu, saluran limbah sengaja diarahkan ke sungai yang dianggap tidak aktif karena tidak bermuara ke laut, melainkan berhenti di area persawahan.
Saat hujan deras, limbah tersebut meluap ke sawah warga. Risiko gagal panen atau penurunan kualitas hasil pertanian pun tak terhindarkan akibat bau dan pencemaran.
Jika terus dibiarkan, endapan limbah dapat menjadi sumber penyakit. Kita tentu tidak ingin kejadian seperti kasus penyakit kulit akibat limbah tahu yang pernah terjadi di Nyalabu Daya Pamekasan, pada 2015 terulang kembali.
Belum lagi keluhan warga Desa Teja Timur mengenai asap hitam dari cerobong produksi tahu dan tempe yang dinilai mencemari udara dan mengganggu kenyamanan lingkungan.
Ironisnya, kita tetap menikmati tahu dengan lahap. Tidak ada yang salah dengan produknya. Yang menjadi persoalan adalah residunya, limbahnya.
Padahal, limbah tahu bukan sesuatu yang tak bisa diatasi. Ia bisa ditampung terlebih dahulu dalam bak penampungan. Bisa difermentasi menjadi pupuk atau pakan ternak. Bisa diolah agar tidak langsung dibuang ke saluran air.
Solusinya tidak selalu mahal, yang terpenting adalah kemauan dan perhatian. Sebab lingkungan hidup adalah hak bersama. Udara bersih, air sehat, dan ruang yang nyaman bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar.
Persoalan limbah tahu juga mencerminkan relasi antara masyarakat dan lingkungan. Warga yang setiap hari terpapar bau menyengat perlahan menjadi terbiasa. Mereka menutup hidung, lalu melanjutkan aktivitas. Normalisasi seperti ini berbahaya, karena membuat ketidaknyamanan berubah menjadi kewajaran.
Pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pamekasan, perlu memastikan bahwa dukungan terhadap industri kecil berjalan seiring dengan pendampingan pengelolaan limbah.
Apalagi, isu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan penguatan ketahanan lingkungan telah menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Prinsip pembangunan berkelanjutan tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus hadir dalam praktik nyata.
Pengusaha pun perlu menyadari bahwa keberlanjutan usaha tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan lingkungan. Sementara masyarakat harus berani menyuarakan hak atas ruang hidup yang layak dan sehat.
Pada akhirnya, pembangunan bukan sekadar membangun yang tampak. Ia juga tentang merawat yang tak terlihat seperti saluran air kecil tempat limbah mengalir.
Jika limbah tahu masih mencemari drainase dan sawah warga, maka surga pembangunan itu belum sepenuhnya nyata. Sebab peradaban yang maju tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang diproduksi, tetapi dari seberapa bertanggung jawab kita mengelola sisa produksinya.
Makan tahu memang nikmat. Kita semua menyukainya. Namun mungkin sudah saatnya kita juga peduli pada apa yang terjadi setelah tahu itu diproduksi. Karena surga pembangunan bukan hanya tentang perut yang kenyang, tetapi juga tentang pikiran yang tenang dan hidup yang nyaman.
***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





