dimadura
Beranda Roma Organisasi PWI Pamekasan Kupas Etika dan Tiga Pilar Jurnalisme di Tengah Gempuran Medsos

PWI Pamekasan Kupas Etika dan Tiga Pilar Jurnalisme di Tengah Gempuran Medsos

Konsolidasi Jurnalistik PWI Pamekasan di kawasan Monumen Arek Lancor (Foto: Istimewa/doc.dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS, DIMADURA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan menggelar konsolidasi jurnalistik di kawasan Monumen Arek Lancor, Minggu malam (19/4/2026).

Kegiatan ini memadukan diskusi profesi dengan tausiah, sekaligus menjadi ruang refleksi atas tantangan kerja jurnalistik di tengah derasnya arus media sosial.

Acara diawali doa bersama untuk Sekjen PWI Pusat almarhum Zulmansyah Sekedang. Sejumlah organisasi wartawan di Pamekasan turut hadir. Forum ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan kapasitas wartawan.

Ketua PWI Pamekasan Hairul Anam melalui Ketua Bidang Budaya dan Agama Hasibuddin menyebut kegiatan tersebut memiliki tiga tujuan utama. “Antara lain mempererat kebersamaan, mengambil hikmah dari peristiwa kematian, dan mengasah insting jurnalistik,” ungkapnya.

Ia menegaskan pentingnya karya jurnalistik yang informatif, edukatif, dan berpihak pada kepentingan publik.

Dalam forum itu juga disampaikan perkembangan positif dunia jurnalistik lokal. Kesadaran pejabat terhadap pentingnya keterbukaan informasi dinilai meningkat.

Sikap tertutup terhadap konfirmasi wartawan menurutnya dapat menghambat diseminasi informasi publik.

Materi tausiah jurnalistik disampaikan oleh wartawan Media Indonesia, KH. Ghazi Mujtaba. Ia mengingatkan agar wartawan menghindari berita yang mengandung unsur fitnah dan ghibah.

Menurutnya, informasi yang tidak berbasis fakta merupakan fitnah. Sementara konten yang menyerang ranah pribadi tanpa kepentingan publik termasuk ghibah.

“Berita yang faktanya tidak valid atau hoaks jelas merupakan fitnah. Sementara berita yang mengandung unsur ghibah lebih kepada yang menjurus pada pribadi seseorang,” tegasnya.

Ia juga menyoroti gaya hidup wartawan, khususnya kebiasaan begadang yang dinilai berdampak pada kualitas kerja. Kesehatan disebut berpengaruh langsung terhadap mutu produk jurnalistik.

Selain itu, ia mengajak peserta mengambil pelajaran dari kematian sebagai pengingat untuk bekerja lebih bijak. Ia menekankan bahwa rezeki dan pendapatan tidak selalu sejalan, sehingga wartawan tidak perlu terjebak pada ambisi materi semata.

Sesi berikutnya diisi wartawan senior Berita Jatim, Syamsul Arifin. Ia menguraikan tiga pilar utama jurnalistik. “Independensi dan keberimbangan, verifikasi, serta integritas,” sebut Syamsul.

Ketiganya disebut sebagai fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Ia juga memaparkan tiga tantangan besar yang dihadapi wartawan saat ini. Pertama, disrupsi informasi akibat derasnya arus media sosial.

Kedua, tekanan sensasionalisme demi mengejar klik. Ketiga, aspek regulasi hukum yang mengikat aktivitas publikasi, termasuk di akun media sosial pribadi.

Konsolidasi ini, lanjut dia, menegaskan kembali posisi wartawan sebagai penyampai informasi yang bertanggung jawab, sekaligus penjaga kualitas ruang publik di tengah maraknya hoaks dan konten sensasional.

“Meski teknologi berubah, prinsip dasar jurnalistik tetap harus menjadi pegangan,” katanya.

***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan