2. Ketidaksesuaian Idiomatik: Makna Tak Bisa Dipaksa
Idioms adalah tantangan klasik dalam penerjemahan, karena tidak semua ungkapan memiliki padanan yang sama di setiap bahasa.
Contoh:
Binatang yang selalu menjadi korban atas dosa yang telah dilakukan oleh orang, hewan apakah aku?
Jawaban: Kambing hitam
Istilah “kambing hitam†tak memiliki idiom padan dalam Bahasa Madura. Terjemahan literal seperti embi’ celleng kehilangan makna simbolis dan tidak lagi dapat berfungsi sebagai jawaban logis atas teka-teki.
Sebagai catatan tambahan, bahwa definisi idioms tidak sama dengan istilah. Idioms lebih pada ungkapan tetap yang maknanya tidak bisa ditebak dari arti kata-kata penyusunnya secara harfiah. Ciri: bersifat kiasan atau metaforis.
Contoh: buah bibir → artinya: sering dibicarakan orang, bukan "buah dari mulut". Kambing hitam → artinya: orang yang disalahkan, bukan kambing berwarna hitam secara harfiah.
Sementara istilah adalah kata atau gabungan kata yang digunakan untuk menyatakan makna khusus dalam bidang tertentu. Ciri: bersifat lugas, teknis, dan maknanya bisa dijelaskan. Seperti: fotosintesis → istilah dalam biologi, atau Inflasi → istilah dalam ekonomi.
3. Ketidaksesuaian Budaya: Ketika Nama Tak Bisa Dikenali
Teka-teki berbasis nama tempat, seperti "Gajahmungkur", sulit ditransfer maknanya karena tidak ada keterhubungan dalam memori budaya Madura.
Contoh: