“Gajah apa yang banyak airnya hingga berlimpah-limpah? Jawaban: Gajahmungkurâ€
“Ghâjhâ ponapa sè bânnya' aèngnga, taker aghâlibhirân ka man-á¸imman?
Jâwâb: Ghâjhâmongkorâ€
“Gajahmungkur†adalah nama bendungan di Jawa Tengah. Meskipun bisa diterjemahkan secara fonetik ke dalam aksara Madura, tidak ada rujukan kontekstual dalam budaya Madura untuk mengenali Ghâjhâmongkor sebagai bendungan.
Jika dipaksakan, maka hal ini dapat membuat teka-teki menjadi tidak bermakna dalam bahasa sasaran.
4. Permainan Bunyi: Batas Bahasa dalam Humor Palindromik
Beberapa tebak-tebakan bergantung pada permainan bunyi seperti palindrom, yang tidak selalu bisa dialihbahasakan.
Sebagaimana diketahui, palindrom adalah kata, frasa, angka, atau susunan karakter yang dibaca sama dari depan maupun belakang.
Contoh:
“Hewan apa yang kalau disebut secara bolak-balik tetap sama? Jawaban: Katak atau Kodokâ€
Dalam Bahasa Madura, “katak†atau “kodok†tidak memiliki bentuk palindromik atau efek bunyi serupa. Maka unsur kelucuannya hilang dalam terjemahan.