"Aku sungkem terlebih dahulu kepada ayahku, karena ayah wajib dihormati lebih dahulu daripada siapapun di dalam  dunia ini, sekalipun seorang raja yang seribu kali lebih  kuasa dari ibu ratu, maka di dalam batinku tetap orang  tua yang sejati lebih berharga dan lebih tinggi derajatnya  daripada siapapun, selain Tuhan Allah, karena aku dan  kamu dan semua manusia yang hidup di dunia ini  dijadikan dari setetes air, yakni campuran air (sperma)  antara ayah dan ibunya, yang mana air tersebut menyatu  dalam rahim ibuku dan jadilah aku itupun atas kuasa  Allah SWT (Hidayah Allah SWT kemudian kedua air  tersebut menjadi janin atau bayi yang dikandung oleh  ibu selama sembilan bulan sepuluh hari, maka tiada  raja, tiada orang hina dina, orang kaya, orang miskin,  orang baik dan orang jahat, kesemuanya sama, maka  sangat berdosa bila seorang anak tidak menghargai  kedua orang tuanya terlebih dahulu, karena ayah, ibu,  saudara, anak, adalah satu darah, sedang ibu tiri, istri adalah darah sambungan saja, dan apabila diantara  mereka bercerai maka sambungan tersebut akan  terputus, dengan demikian keliru bilamana apabila  seorang anak lebih menghargai kepada darah  sambungannya sekali lagi, ayah dan ibu tidak dapat  diganti olch orang lain, jadi yang utama urutannye  adalah bapak, ibu, guru dan raja (bhuppa' bhábhu' ghuru  rato), dan apabila aku mendapat seorang istri yang tidak  mau menghormat serta menghargai ayahku, ibuku dan  saudaraku maka aku tidak akan mau beristri, lebih baik  dalam hidup ini aku tinggal sendirian sampai matiku".

Diceritakan, bahwa Raden Aryo Kusumanegara atau disebut tidak mau beristri seumur hidupnya, beliau  hidup sendirian, dan lebih banyak beribadah hingga  meninggal dunia, yang kemudian bergelar Raden Aryo  Pacinan. Pekerjaannya yakni membuat alat perang, seperti keris tombak, lembing dan lain sebagainya dan  terutama dalam pembuatan keris sampai sekarang  masih digemari orang.

Setelah beberapa waktu kedua putra Bindhârâ  Saot berada di lingkup keraton Sumenep, kemudian  mereka mohon diri untuk pulang mengunjungi ibunya di  Lèmbung. Sesampainya di rumah ibunya, keduanya  bercerita apa yang terjadi pada dirinya selama ini di keraton Sumenep, terutama tentang adanya peristiwa  sungkem sehingga ibu ratu dan memilih sang adik untuk  menggantikan ayahnya menjadi raja Sumenep kelak. Kemudian mereka bertanya kepada ibunya siapa yang diantara mereka yang benar menurut pendapat ibunya. Namun ibunya tidak menjawab apa-apa  hanya memandang kedua putranya sambil tersenyum, hanya roman mukanya tampak sumringah menyimpulkan rasa  bahagia. Karena sang ibu tidak menjawab maka  Bahauddin bertanya kepada ibunya, apakah maksud serta tujuan adanya pcraturan menyembah.

Dan Nyè Izzah tersenyum, kemudian berkata  dengan lemah lembut:

"Anakku berdua, sembah itu adalah adat  kebiasaan manusia sejak zaman dahulu kala,  siapa yang membuat aturan aku dan orang saat  ini tidak mengetahui, tapi adanya sembah itu  peraturan yang dibuat oleh manusia, dilakukan  oleh anak terhadap ayah dan ibunya atau  terhadap keluarganya yang termasuk golongan  tua, dan leh pihak bawahan terhadap  atasannya. Ketahuilah bahwa orang di zaman  dahulu kala pada umumnya amat sederhana  sekalipun tidak tahu tulis menulis, namun  semua langkah-langkahnya dijadikan  kata  parsemmon (sindiran) atau gambaran bagi  kehidupan  manusia. Tata caranya  menghaturkan sembah bagi manusia, tangan  kanan dijadikan satu dengan tangan kiri atau  dirangkapkan kemudian dari bawah sekitar  pusar lalu diangkat ke atas menuju hidung  Tangan kanan itu digambarkan sebagai  'panengngen" yaitu "rasa batin"  tangan kiri itu digambarkan sebagai "pangiwơ  sedangkan  yaitu "rasa lahir", hidung yakni jalannya nafas  (nyawa) keluar masuk ke dalam tubuh manusia.  Dikiaskan bahwa bilamana orang menyembah seolah berkata dalam batinnya "rasa lahirku dan  rasa batinku, kutujukan kepadamu, dan aku  mengormat kepada dirimu".

Kemudian dilanjutkan lagi oleh Nyè Izzah:

"Begitulah maksud sembah menurut adat  istiadat sejak zaman dahulu kala. Dan kadang  kala keberadaan sembah untuk manusia  tersebut, tidak mutlak harus dilakukan, bisa  saja dianti dengan kata-kata "iya" "saya" atau  'sahaya" asalkan keberadaan wujud lahir dan  wujud batinnya orang tersebut sama dengan apa  yang dimaksud itu sembah, hal yang demikian  itu harus betul-betul dihayati dalam batinnya  Beda lagi jika dibandingkan dengan perintah  Allah SWT, Tuhan menciptakan alam dunia ini  dengan seisinya. Tidak ada seorangpun tahu  akan maksud ang sebenarnya. anya  diperkirakan oleh manusia bahwa Tuhan  menciptakan alam dan seisinya hanya untuk  dikenal oleh alam serta mahlukNya, jadi hanya  untuk memperkenalkan diriNya saja. Seumpama  Tuhan tidak menciptakan alam dengan isinya,  pasti Tuhan tidak terkenal atau dikenal. Dan  keberadaan alam ini hanya merupakan saksi  saja bahwa Tuhan iu betul-betul ada dengan  segala esempurnaan-nya yang tidak ada  taranya. Di dalam hakekatnya Tuhan  menciptakan alam atau tidak, pasti tidak akan  berubah keberadaan Tuhan tersebut. Dengan  menciptakan atau tidak menciptakan alam dunia  maka diri uhan tidak akan berubah  keberadaannya. Tidak bertambah besar atau  tidak berkurang besarnya. Tuhan sama sekali  tidak butuh kepada dunia, akan tetapi  sebaliknya, dunialah yang selamanya butuh  kepada Tuhan. Tuhan tidak pamrih terhadap  dunia. Demikianlah kata-kataku kepada kalian  dan silahkan kalian renungkan dengan hati  yang suci dan fikiran yang jernih".

Dan sesuai dengan adat istiadat, melakukan  sembah pada yang lebih tua, bukan saja dalam hal  penghormatan dikala bertemu saja, tapi juga dalam  berkomunikasi selalu dilakukannya, seperti bila sedang  bertamu pada keluarga yang lebih tua, dan bila disuguhi  minuman atau makanan lalu disuruh minum, maka si  tamu menyembah dulu dengan mengangkat kedua  tangan yang dirangkapkan ke hidung sambil berkata  "pangapora" atau "nyabis parèng" atau mohon ijin dulu  kalau sudah dijawab iya' maka diminumlah atau  dimakannya. Setiap mau berkata-kata atau menjawab  pertanyaan harus nyembah dulu, begitulah adat tradisi  keraton Songennep tempo doeloe.

Pada kisah cerita tersebut diatas keberadaan  wejangan Nyè Izzah ada beberapa kesimpulan yang perlu  diperhatikan, yakni antara lain:

‣ Sembhâ atau sembah