Tata caranya menghaturkan sembah bagi manusia, tangan kanan dijadikan satu dengan tangan kiri atau dirangkapkan kemudian dari bawah sekitar pusar lalu diangkat ke atas menuju hidung. Tangan kanan itu digambarkan sebagai "panengngen" yaitu "rasa batin" sedangkan tangan kiri itu digambarkan sebagai pangiwo" yaitu rasa lahir", hidung yakni jalannya nafas (nyawa) keluar masuk ke dalam tubuh manusia.
‣ Bhâktè atau Bakti
Mencium tangan orang yang dimaksud, dengan tata cara: mendekatinya kepada yang dimaksud sedang duduk maka mendekati dengan berjalan jongkok lalu duduk di hadapannya, kemudian menyembah seperti poin (a), lalu melepaskannya dan mengambil tangannya yang dimaksud dicium punggung tangannya, lalu dilepas kemudian melakukan sembah seperti point (a) lagi, kemudian mundur.
‣ Ajhálân nèngkong atau berjalan jongkok
Berjalan jongkok atau ajhâlân nèngkong yaitu berjalan dengan berjongkok. Kedua tangan ditopang di atas lutut seolah mengendalikan lutut yang tidak boleh melampau ketinggian pusar. Sesekali tangan kanan dijatuhkan ke lantai eakan mempertahankan posisi jalan jongkoknya, sampai pada tempat orang yang dituju, bila jaraknya agak jauh maka sekitar 5 meter berhenti dengan posisi jongkok sempurna kemudian menghaturkan sembah, lalu melanjutkannya lagi hingga sampai pada orang yang dituju Nyongkem atau Sungkem.
Tata caranya, yang dituju biasanya duduk di amben atau kursi, ang bersangkutan memulai berjalan jongkok sckitar sepuluh meter sebelumnya, lalu mendekat emudian menyembah sepeti point (a), kemudian kedua tangannya diletakkan menelungkup pada kedua lutut yang dimasuk, lalu mencium punggung tangannya sendiri, yang dituju mengusap kepalanya serta mendoakannya, kemudian tangan ditarik lalu menyembah lagi lalu lagi, lalu berjalan jongkok mundur dan setelah sampai pada awal berangkat tadi lalu berdiri dibarengi dengan menghaturkan sembah.
Pada dasarnya itu adalah aturan sembah bakti dan sungkem versi adat istiadat keraton sejak zaman dahulu, jadi bukan ajaran agama. Namun kadang kala cara seperti itu dilakukan kepada guru, ulama dan orang yang dihormati.
Meskipun tradisi sembah ini bukan bagian dari ajaran agama, tetapi cara seperti ini juga dilakukan kepada guru, ulama, dan orang-orang yang dihormati di kalangan masyarakat keraton Sumenep sejak zaman dahulu.
Adat istiadat ini mencerminkan betapa dalamnya nilai-nilai penghormatan dan kesopanan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat keraton Sumenep, yang tetap relevan dan dihormati hingga saat ini.
Referensi:
