dimadura
Beranda Tomang Sumenep Dari Madura untuk Indonesia: A’yat Khalili Bawa Suara Solidaritas ke Panggung Nasional

Dari Madura untuk Indonesia: A’yat Khalili Bawa Suara Solidaritas ke Panggung Nasional

Warga Dusun Telenteyan, Longos, Gapura, Sumenep, A’yat Khalili, saat menerima penghargaan sebagai Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kebangsaan Tingkat Umum Nasional (Foto: Istimewa/doc.dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA — Kabar membanggakan datang dari Pulau Madura. Putra daerah asal Sumenep, A’yat Khalili, mendapat kehormatan diundang ke studio Garuda TV untuk mendeklarasikan dan membacakan puisinya dalam program bertema “Merajut Kebangsaan, Solidaritas untuk Indonesia”, Rabu (11/2/2026) malam.

Undangan tersebut menjadi momen istimewa bagi A’yat untuk menyampaikan suara empati dari Madura kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Di hadapan pemirsa nasional, ia membacakan puisi “Tanah Ini Tanah Bersama”, yang menjadi juara 1 dalam Lomba Tingkat Umum Nasional yang diselenggarakan Garuda TV.

Suara dari Madura untuk Sumatera

Dalam puisinya, A’yat secara khusus menyuarakan empati terhadap saudara-saudara tertimpa bencana, khususnya di Pulau Sumatera, seperti lariknya:

Ketika Aceh, Sumut, Sumbar, bercerita kepadamu
Melalui suara air yang menelan rumah,
keluarga dan margamu,
yang mereka rindu hanya peluk tanah bersama
dekap jiwa yang hangat dan tulus

“Tidak boleh ada yang sendiri-sendiri di tanah ini.”

Larikan tersebut menjadi penegasan kuat bahwa Indonesia tidak boleh terpecah oleh jarak geografis, maupun perbedaan latar belakang. Bagi A’yat, duka di Aceh adalah duka Madura, dan air mata di Sumatera adalah air mata seluruh anak bangsa.

Ia menggambarkan duka yang melanda bukan sebagai luka satu daerah, melainkan luka seluruh bangsa. Banjir dan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera ia jadikan refleksi tentang pentingnya kehadiran, kepedulian, dan solidaritas lintas daerah.

“Indonesia bukan sekadar garis pada peta, tetapi denyut bersama untuk dirasakan bersama-sama,” demikian salah satu penggalan makna yang disampaikan dalam puisinya.

Sebagai putra Madura, A’yat menegaskan bahwa jarak geografis tidak pernah menjadi batas bagi empati.

Dari ujung timur Pulau Jawa, ia menghadirkan suara yang menjangkau Sumatera, membawa pesan bahwa gotong royong dan solidaritas adalah fondasi kebangsaan yang tak boleh runtuh.

Sastra sebagai Jembatan Kebangsaan

Suara ini menjadi bukti bahwa sastra masih memiliki ruang penting dalam membangun kesadaran kolektif bangsa.

Melalui puisi, A’yat tidak hanya meraih prestasi pribadi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karya tulis mampu menjadi jembatan emosional antarwilayah.

***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan