DKPP Sumenep Lampaui Target Swasembada Pangan 2025, Luas Tanam Padi Tembus 36.000 Hektare
NEWS SUMENEP, DIMADURA–Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Jawa Timur, mencatat capaian signifikan dalam program swasembada pangan tahun 2025.
Luas tanam padi di Kabupaten Sumenep, melampaui target yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni mencapai 36.000 hektare.
Sebelumnya, DKPP Sumenep menargetkan perluasan tanam padi seluas 25.000 hingga 25.081 hektare pada 2025.
Target tersebut merupakan bagian dari program swasembada pangan nasional yang dicanangkan Kementerian Pertanian.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, atau yang akrab disapa Inung mengatakan capaian itu tidak lepas dari kolaborasi antara petani, penyuluh pertanian, dan jajaran dinas.
“Alhamdulillah, berkat semangat para petani, teman-teman penyuluh, dan dukungan dari dinas, realisasi tanam padi melampaui target menjadi 36.000 hektare,” kata Inung saat ditemui, Rabu (26/2/2026).
Ia menjelaskan, target swasembada atau luas tambah tanam padi (LTT) yang dibebankan kementerian kepada Kabupaten Sumenep sebesar 25.000 hektare pada 2025. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Ini kenaikan yang luar biasa dan menjadi wujud nyata kerja keras petani serta penyuluh untuk mencapai swasembada pangan di Kabupaten Sumenep,” terangnya.
Menurut Inung, capaian tersebut tersebar di seluruh kecamatan, baik wilayah daratan maupun kepulauan.
Kabupaten Sumenep dinilai memiliki potensi pertanian yang besar untuk pengembangan tanaman pangan.
Dalam pelaksanaannya, Lanjut dia, DKPP Sumenep juga melakukan sejumlah strategi, antara lain optimalisasi lahan serta pembentukan brigade pangan di beberapa kecamatan seperti Saronggi, Guluk-Guluk, dan Lenteng.
Terkait pola tanam, Chainur menjelaskan bahwa pada musim tanam pertama 2025 yang bertepatan dengan musim hujan hampir seluruh petani menanam padi.
Memasuki musim tanam kedua, sebagian petani beralih menanam jagung, sementara sebagian lainnya tetap menanam padi, bergantung pada ketersediaan air di masing-masing wilayah.
“Petani menyesuaikan dengan kondisi lahan dan kecukupan air. Jadi ada yang tetap padi, ada juga yang beralih ke jagung pada musim tanam kedua,” ujarnya.
Inung juga optimis bahwa pada tahun berikutnya, swasembada pangan di Sumenep akan semakin baik dan menunjukkan tren positif.
”Kami optimistis kontribusi daerah terhadap swasembada pangan nasional semakin menguat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal,” harapnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow




