Sejarawan Sumenep Apresiasi PKKMB UTM Bangkalan 2025
NEWS BANGKALAN, DIMADURA – Ribuan mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Sakera 2025 selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 Agustus.
Selain mengenalkan dunia akademik, mahasiswa baru UTM Bangkalan juga disuguhkan pemikiran tokoh-tokoh nasional dan daerah untuk membentuk karakter, wawasan global, hingga kesadaran.
Tadjul Arifien R., sejarawan sekaligus budayawan asal Sumenep, tampil sebagai narasumber di hari terakhir PKKMB, Rabu (6/8). Di hadapan ribuan mahasiswa baru, ia memaparkan secara mendalam kisah epik Raden Trunojoyo, tokoh sejarah Madura yang melawan hegemoni kekuasaan Mataram di abad ke-17.
“Perjuangan Raden Trunojoyo adalah representasi dari semangat anti-penjajahan. Mahasiswa UTM sebagai penerus estafet perjuangan bangsa harus tahu siapa tokoh ini, karena sejarah tidak boleh tercerabut dari akar budayanya,” tutur Tadjul kepada dimadura.id, Kamis (7/8).
Dalam paparan historisnya, Tadjul menguraikan tentang silsilah bangsawan Trunojoyo, pemberontakan Pangeran Alit, pembantaian ribuan ulama, gugurnya tokoh-tokoh Madura seperti Cakraningrat I dan Mlayakusuma, hingga kisah persekutuan Trunojoyo dengan Adipati Anom yang mengguncang Mataram.

Selain itu, ia juga menyinggung dampak kekalahan Trunojoyo terhadap perubahan geopolitik Nusantara kala itu.
“Kisah Trunojoyo, selain menghadirkan romantisme sejarah, juga menawarkan pelajaran tentang bagaimana kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan berkelindan dalam narasi bangsa. Ini penting diketahui generasi muda,” imbuh tokoh yang hingga saat ini masih aktif menghidupkan literasi sejarah di Madura.
Dari Geopolitik Global hingga Cinta Tanah Air
Momentum reflektif sejarah itu dirangkai erat dengan pembahasan isu-isu kontemporer yang dibawakan tokoh nasional pada hari pertama PKKMB, Senin (4/8).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjadi pembuka agenda dengan pemaparan tema “Bersama Membangun Masa Depan Indonesia”.
AHY mengajak mahasiswa baru memahami peta dunia yang tengah berubah. Ketegangan geopolitik di Gaza, Asia Timur, hingga perang dagang antara Amerika dan Tiongkok menurutnya menjadi tantangan serius bagi generasi muda Indonesia.
“Teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI), adalah peluang sekaligus tantangan. Mahasiswa harus menguasainya, bukan malah dikuasai,” tegas AHY saat orasi, sebagaimana dilansir laman resmi UTM Bangkalan.

Ia juga menyentil pentingnya kepemimpinan transformatif dan pemanfaatan potensi energi nasional demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Setelah AHY, sesi dilanjutkan dengan materi bertema Toxic Relationship oleh Hera Wahyuni, Sumriyah, dan Nailur Rohmah. Mereka menekankan pentingnya relasi sehat dan kesadaran akan kekerasan dalam kehidupan mahasiswa.
UKM-KM dan Budaya Lokal Hidupkan Kampus
Hari kedua PKKMB, Selasa (5/8), menjadi panggung apresiasi budaya dan kreativitas mahasiswa. D. Zawawi Imron, sastrawan nasional yang juga asal Sumenep, turut membakar semangat mahasiswa lewat puisi dan petuah kebudayaan.
“Tanah air ini bukan cuma tempat berpijak, tapi tempat jiwa kita tumbuh. Cintai Madura, cintai Indonesia,” serunya.
Di sesi yang sama, anggota DPR RI dari Dapil Madura, Eric Hermawan, menyoroti dampak double disruption akibat pandemi dan perkembangan teknologi. Menurutnya, generasi muda harus mampu menyeimbangkan antara teknologi dan nilai-nilai komunikasi sosial.
Setelah sesi materi, sebanyak 21 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Keluarga Mahasiswa (KM) tampil memperkenalkan diri kepada mahasiswa baru. Mulai dari UKM keagamaan, pencinta alam, seni, pers mahasiswa, hingga lembaga legislatif dan yudikatif kampus tampil bergantian, mencerminkan kekayaan dinamika mahasiswa UTM.
Serah Terima dan Harapan Masa Depan
Pada penutupan PKKMB, Rabu (6/8), ribuan mahasiswa baru secara simbolik diserahkan kepada masing-masing fakultas oleh panitia pusat. Wakil Rektor I Bidang Akademik, Achmad Amzeri, menjelaskan sistem pembelajaran berbasis SKS dan pentingnya pengabdian masyarakat serta riset di perguruan tinggi.
“Ilmu di sini tidak hanya untuk dibaca. Gunakan untuk mengabdi dan meneliti,” pesannya.
Surokim, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni, juga memberikan motivasi kepada mahasiswa agar menjaga integritas selama menempuh pendidikan.
“Jangan meludah di tempat kamu minum. Kalau ada yang buruk, sampaikan secara baik. Tapi tetap jaga nama baik almamatermu,” ungkapnya.
Kolaborasi Ilmu, Budaya, dan Karakter

Pelaksanaan PKKMB Sakera 2025 di UTM Bangkalan menjadi potret keberhasilan kolaborasi antara nilai historis, tantangan global, dan pembangunan karakter. Bukan hanya membuka gerbang kampus, tetapi juga membuka cakrawala berpikir mahasiswa baru.
Bagi Tadjul Arifien, keberanian UTM mengangkat kisah Trunojoyo dalam forum akademik menjadi langkah penting menanamkan nasionalisme berbasis sejarah lokal.
“Kegiatan itu lebih dari sekadar orientasi kampus, semacam penyadaran kolektif bahwa sejarah, teknologi, dan masa depan harus berjalan seiring. Saya apresiasi setinggi-tingginya untuk PKKMB UTM Bangkalan tahun ini,” kesan Tadjul Arifien R.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





