Di sinilah paradoks itu muncul. Data pengadaan tersedia secara terbuka. Nilainya tidak kecil. Informasi itu dapat diakses siapa saja. Namun bagi sebagian pegiat KIM yang pernah bekerja di tingkat desa, keberadaan angka tersebut justru terasa asing. Mereka mengenang masa ketika bantuan nyaris tak terasa.
Barangkali ini yang disebut Jürgen Habermas sebagai jarak antara sistem dan dunia kehidupan. Sistem berbicara dengan bahasa administrasi. Dunia kehidupan berbicara dengan pengalaman. Sistem melihat angka yang terserap. Dunia kehidupan mengingat website yang mati.
Saya tidak sedang mempermasalahkan angka Rp393 juta. Saya juga tidak sedang menyimpulkan adanya pelanggaran. Pertanyaan yang lebih menarik justru berada di tempat lain. Bagaimana sebuah anggaran diterjemahkan menjadi daya hidup bagi komunitas yang menjadi alasan anggaran itu diadakan?
Albert Camus pernah menulis bahwa absurditas lahir ketika kenyataan tidak memberikan jawaban yang diharapkan manusia. Dalam kisah ini, absurditas itu tampak sederhana. Sebuah website memperoleh penghargaan nasional. Namun ia tak memperoleh umur yang cukup panjang untuk bertahan hidup.
BPK RI mungkin telah selesai menjalankan tugasnya. Dokumen telah diperiksa. Berkas telah ditelaah. Laporan akan disusun. Namun publik memiliki cara pemeriksaannya sendiri. Publik memeriksa melalui ingatan. Publik memeriksa melalui manfaat yang dirasakan.
Karena itu pertanyaan Akh. Fauzi sesungguhnya tidak rumit. Jika hari ini terdapat alokasi ratusan juta rupiah atas nama KIM, mengapa kemarin sebuah website yang pernah mengharumkan nama daerah harus mati karena biaya operasional yang relatif kecil?
Mungkin jawabannya ada dalam dokumen. Mungkin ada dalam laporan kegiatan. Mungkin ada dalam rapat-rapat yang tak diketahui publik. Tetapi selama website itu tetap mati, pertanyaan tersebut akan terus hidup. Kadang pertanyaan memang lebih panjang umurnya daripada sebuah program.
***
